CAKRAWALA JIWA (Bagi Engkau yang Dahaga Jiwa)

Mendalami Jiwa layaknya menjelajahi jagad raya begitu sulit, dalam, dan berkelok tetapi diliputi keindahan bagi yang memiliki kesadaran transendental. Mengenal jiwa secara mikrokosmos adalah dasar untuk mengenall jiwa secara makrokosmos, termasuk kekuasaan Tuhan

Ramai-Ramai Penjarakan Guru

Beberapa harian di Batam hari ini mengangkat berita yang cukup menghebohkan dunia pendidikan Batam. Setelah beberapa kasus serupa yang mendahului beberapa minggu yang lalu, kali ini kawan-kawan guru di EPATA harus duduk di meja hijau alias di polisikan. Apalagi kalau tidak karena tidak terimanya orangtua siswa atas perlakuan guru tsb terhadap anaknya. Kasus, yang ketika aku belajar di sd, smp dan sma nyaris tidak pernah terjadi. Guru pada waktu itu benar-benar menunjukkan sosoknya yang disegani patut ditauladani dan segala bentuk stigma yang membuat siswa tidak pernah berkutik dihadapan guru. Agaknya memang tidak arif untuk membandingkan kondisi tersebut oleh karena zaman memang sudah berubah, dari berbagai segi maka usaha membandingkan hanyalah usaha mengkambing hitamkan dari persoalan-persoalan baru yang dulu tidak pernah muncul. Sebagaimana orang bijak mengatakan bahwa “Tidak ada yang abadi di dunia ini selain daripada perubahan”. Maka guru yang tida berubah sesuai dengan berubahnya zaman, maka ia akan dimakan oleh zaman itu tanpa sisa, tanpa perlawanan maka jadilah guru yang meratapi nasibnya di balik jeruji besi.

Agak confuse dalam menanggapi masalah ini. Dilema yang berkepanjangan dan tidak pernah mencapai titik penyelesaian yang adil. Begitu sangat mudahnya guru diperkarakan disalahkan padahal apa yang dia lakukan semata-mata untuk mendidik memperbaiki pola sikap perilaku dan pola pikir peserta didik, tidak ada sisi kebaikan yang dikedepankan “sebagian masyarakat” untuk membela tindakan guru atau setidaknya memaafkan guru jika memang agak menyakitkan kita. Meski disatu sisi kita bingung juga begitu mudahnya kawan guru bermain kasar, menampar bahkan sampai menghajar dikarenakan masalah yang tidak terlalu prinsip. Ada apa dengan siswa kita , ada apa pula dengan guru-guru kita?

Baiklah untuk membantu anda mencari jalan penyelesaian kasus ini saya sampaikan sedikit terbuka akan kasus yang menimpa kawan-kawan guru dari EPATA tersebut. silahkan klik Maka muncullah sifat dasar manusia yang pasti bakal marah ketika eksistensinya dilecehkan, martabatnya merasa diinjak-injak. Maka di hajarlah si murid oleh ketiga guru dengan stratifikasu berbeda tersebut. Hal ini berujung pada tidak terimanya orang tua siswa dan melaporkannya ke polisi. Kawan-kawan kita tersebut siap-siap bakal merasakan pengapnya hotel prodeo, tanpa pembelaan, tanpa ada belas kasih dari orang tua siswa tersebut, tanpa apa-apa.

Ironis, disaat profesi guru sedang matian-matian ditingkatkan pamornya. Seiring itu pula penghormatan terhadap guru malah justru menunjukkan grafik yang terjun bebas. Barangkali ke depan perlu dipikirkan dengan serius, adanya lembaga advokasi bagi profesi guru. Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan sebagaimana halnya kasus di atas. Jika persoalan sepele diadukan siswa kepada orang tuanya dengan hiperbola, maka persepsi orang tua juga pasti akan menilai guru salah. Maka diadukanlah ke polisi sebagai sebuah tindak pidana penganiayaan, padahal hukuman fisik yang dilakukan guru adalah proses pendidikan terhadap pola perilaku dan sikap si peserta didik. Kalau setiap proses pendidikan yang dilakukan guru dengan sedikit menggunakan kekerasan fisik masuk kepada delik pidana, maka tidak akan ada orang yang mau menjadi guru. Persoalannya jelas orang tidak mau masuk bui. Saya yakin apabila di usut sebagaimana KPK mengusut kasus pejabat yang korupsi, atas tindakan guru-guru selama ini maka penjara akan penuh dengan manusis-manusia yang berprofesi sebagai guru.

Ada semacam stigma baru yang muncul di benak sebagaian anggota masyarakat, biasanya sebagian anggot masyarakat tersebut dari kalangan atas, tidak menempatkan guru sebagai partner dalam mendidik anak tetapi sebagai pekerja yang tugasnya mengajar mata pelajaran sesuai dengan bidangnya, lain tidak. Padahal orang-orang kaya yang picik semacam ini sesungguhnya tidak pernah punya waktu untuk mengetahui bagaimana perilaku perkembangan mental dan pola sikap anaknya, atau bahasa umunya “mana sempat mereka mengajarkan etika, sopan santun perilaku terpuji bagi anak-anak mereka”. Pada akhirnya mereka sendirilah yang kewalahan meghadapi pola sikap anak yang jauh dari keinginan layaknya orang tua terhadap anaknya, kalau sudah seperti ini maka guru pasti yang disalahkan. Apalagi ketika guru dengan naluri mendidiknya , bukan hanya mengajar, berusaha sekuat tenaga untuk mendidik si anak dengan perilaku yang terpuji meski terkdang harus keras secara mental dan fisik. Tetapi lagi-lagi orang tua tidak terima, malah mereka dengan setumpuk uang kekayaannya, ramai-ramai memperkarakan guru ke meja hijau alias dipolisikan. Puas mereka?

Dari sisi mata uang yang lain, maka kita juga harus arif menyikapi bahwa era sekarang ini sepertinya memang kekerasan fisik memang benar-banar harus dihilangkan dari dunia pendidikan kita. Meskipun sesungguhnya dalam batas-batas wajar hukuman fisik masih sangat diperlukan. Kawan-kawan guru saatnya kini benar-benar kreattif dalam proses pendidikan dan pengajaran terhadap peserta didik. menciptakan inivasi-inovasi yang membangun dan mencerahkan siswa. Menjadi guru bijak saat ini adalah harga mati. Semoga kasus-kasus sepeti ini segera teratasi dengan solusi terbaik. Kalau gurunya saja sudah dipenjarakan oleh muridnya, lantas?

Filed under: berita nasional, celoteh dan tulisan-ku, pendidikan, personality

The type of personality profile and Human Nature

In general the human personality types are grouped in 4 basic types, namely;

1. Sanguinis popular (in the private but many talk)
strength:
spontaneous, mercurial, jovial, ekstrovert, optimistic, creative and innovative, easy to be friends, like praised, like humor.
weaknesses:
too much talking, selfish, mind resources are limited, not orderly and not adults.

2. Makes the perfect (hypersensitive and easily oppressed)
strength:
faithful, diligent, introvert, thinker, analytical, serious, musical and artistic, philosophical and poetic, tidy, perfeksionis, organized, orderly, economical, like diagrams, charts and graphs, carefully, hear complaints, to avoid attention.
weaknesses:
taste, easy offense, easily oppressed, low self image, become the enemy themselves, they do not feel safe, tow-temporize, to spend more time planning, a claim that is not realistic. Read the rest of this entry »

Filed under: celoteh dan tulisan-ku, pendidikan, personality

UKHUWAH ISLAMIYAH

Pengertian dan Hakikat

Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu dengan yang lain (bahkan kalaupun merupakan hasil cloning), dengan fikiran dan kehendaknya yang bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok – dalam bentuknya yang minimal – yang mengakui keberadaannya, dan dalam bentuknya yang maksimal – kelompok di mana dia dapat bergantung kepadanya.

Read the rest of this entry »

Filed under: Berita Dunia Islam, Dakwah Islam, pendidikan, personality

STUDI TENTANG NAFSU MANUSIA

Para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beragam cara dan metode bersepakat bahwa nafsu adalah faktor yang menghalangi hati untuk sampai kepada Allah. Mereka juga bersepakat, tidak ada seorang pun yang dapat masuk dan sampai kepada Allah kecuali jika sudah membunuh, menyelisihi, dan memenangkan pertarungan atasnya. Begitulah, manusia itu ada dua kelompok. Pertama, manusia yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia benar-benar tunduk di bawah perintahnya. Kedua, manusia yang berhasil memenangkan pertarungan melawannya. Ia mampu mengekangnya, menundukannya, dan nafsu pun tunduk di bawah perintahnya. 

Sebagian orang arif berkata, “Akhir dari perjalanan para thalibin (orang-orang yang mencari) adalah ketika mereka telah berhasil menundukkan nafsunya. Siapa pun yang demikian keadaannya telah berhasil dan sukses. Sebaliknya siapa saja yang dikalahkan oleh nafsunya telah gagal dan hancur. Allah subhanahu wa taala berfirman,
“Adapun orang yang durhaka, lagi mengutamakan kehidupan dunia. Maka neraka Jahimlah tempat tinggalnya. Sedangkan orang yang takut akan kebesaran Rabbnya, lagi menahan diri dari hawa nafsunya. Maka surgalah tempat tinggalnya. (QS An-Nazi’at: 37-41)

Nafsu itu menyeru kepada sikap durhaka dan mendahulukan dunia. Sedangkan Allah subhanahu wa talaa menyeru hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan menahan diri dari hawa nafsunya. Jadi, hati manusia itu ada di antara dua penyeru. Kadangkala ia condong kepada yang satu, dan kadang pula condong kepada yang lainnya. Di sinilah ujian dan cobaan.

Di dalam al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala menyebut nafsu dengan tiga sifat: muthmainnah, lawwaamah dan ammaarah bis suu’. Selanjutnya manusia berbeda pendapat, apakah nafsu itu satu dan yang tiga adalah sifatnya? Ataukah setiap manusia itu memiliki tiga nafsu.

Pendapat pertama adalah pendapat fuqaha’ dan para mufassir. Sedangkan pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ahli tashawwuf. Tetapi pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara dua pendapat ini. Sebab memang nafsu itu satu jika ditinjau dari sisi dzatnya, dan tiga jika ditinjau dari sisi sifatnya. Read the rest of this entry »

Filed under: Al-Islam, Dakwah Islam, pendidikan, personality

Cerminan Pribadi dalam Golongan Darah

Golongan darah A :
Sikapmu lembut, tapi dalam mengambil keputusan nampak tegas. Suka mengalah dan ringan tangan. Suka membantu siapa saja yang sedang dilanda kesusahan. Sekalipun orang yang ditolongnya baru pertama kali dijumpainya, alias belum dikenal.Bahkan terkadang sifat sosialnya itu agak diluar batas kewajaran sebagai manusia. Habis udah tau punya uang pas-pasan misalnya, eh malah diberikan ke orang lain. Tapi ya itu, dia hanya akan memberikan pertolongan berdasarkan perasaan hati nurani alias nggak perlu diminta. Justru pada orang yang terang-terangan meminta padanya, dia amat nggak suka.Orang punya golongan darah A termasuk yang enggak mudah emosi. Meskipun perasaannya sebenarnya tersinggung, tapi nggak diperlihatkannya. Kecuali jika dianggapnya sudah keterlaluan banget, emosinya bisa nggak terkendali.Tapi namanya juga manusia, tetap punya kelemahan. Jika sudah merasa cape dalam mengerjakan sesuatu suka ngedumel/cuap2. he..he..he.. Bicaranya ceplas-ceplos, tanpa peduli pada perasaan orang lain. Pada orang yang jelas-jelas nggak disukainya terlalu diperlihatkan. Boro-boro mau ngobrol, dekat-dekat aja nggak mau.Pada umumnya orang yang memiliki golongan darah A sedikit pemalu. Itu sebabnya untuk bisa masuk lingkungan pergaulan butuh waktu beradaptasi cukup lama.

Golongan darah B :
Otaknya cerdas, sifatnya periang dan rasa humornya tinggi. Demen banget ngobrol, bahkan kalau sudah ketemu orang yang dianggapnya cocok, betah ngobrol sampai berjam-jam lamanya.Orang yang memiliki golongan darah B termasuk orang yang mudah bergaul. Sahabatnya ada di mana-mana. Sikapnya selalu optimis dan jika sudah mengambil keputusan, sulit sekali diubah. Pendiriannya yang keras itulah yang menjadikannya sering meraih sukses. Apa yang dicita-citakannya selalu tercapai.Kelemahan dari orang yang memiliki golongan darah B adalah kurang hati-hati. Suka pamer dan suka dipuji. Bicaranya terkadang seperti nggak pakai kontrol. Nggak jarang sering membuat lawan bicaranya tersinggung.

Golongan darah AB :
Orang yang di dalam tubuhnya mengalir golongan darah AB punya watak yang lain dari yang lain. Kalau boleh disebut, perangainya sangat istimewa yang merupakan gabungan watak atau sifat golongan darah A dan B.Begitu istimewanya, sampai-sampai isi hatinya sulit sekali ditebak, apalagi jalan pikirannya. Kalau dari kulitnya, penampilannya sehari-hari misalnya, lebih condong ke orang yang memiliki golongan darah B, seperti mudah bergaul, selalu optimis dan pendiriannya keras serta suka dipuji. Tapi sebenarnya hatinya sih cenderung ke golongan darah A. Suka mengalah dan murah hati.Bahkan teman-teman dekatnya pun sering menyebutnya sebagai manusia aneh. Habis wataknya bisa berubah 180 derajat hanya dalam waktu sekian menit. Misalnya sedang marah, tiba-tiba dia bisa tertawa terbahak-bahak. Begitu juga jika sedang santai misalnya, bisa saja tiba-tiba dia jadi sedih.Hanya saja orang yang punya golongan darah AB suka kurang percaya diri. Bawaanya selalu curiga!

Golongan darah O:
Rasa percaya dirinya oke. Pendiriannya kuat dan nggak mudah goyah. Apa yang sudah menjadi keputusannya, nggak bisa diubah dengan bujuk rayu. Tapi nggak menutup kemungkinan keputusannya itu bisa diubahnya, hanya dengan teori serta didukung alasan kuat dan masuk akal.Tapi jangan khawtir atau ragu dengan keputusan yang diambilnya. Soalnya, setiap keputusan yang diambilnya, itu merupakan hasil pemikirannya yang matang. Mengingat orang yang memiliki golongan darah O ini bijaksana.Sikap bijaksananya itulah yang membawanya nggak mudah terpengaruh pada lingkungan pergaulan yang buruk. Orang yang memiliki golongan darah O lebih suka nggak punya teman, ketimbang harus masuk lingkungan pergaulan yang buruk.Seperti pepatah mengatakan, tak ada gading yang tak retak. Begitu juga dengan orang yang memiliki golongan darah O ini! Kelemahannya, keras kepala dan terkadang pandangannya agak konvensional. Nggak suka mengalah. Dalam perdebatan misalnya, meskipun sudah tahu kalau pendapatnya itu salah, tapi tetap nggak sudi mengakuinya.

 

 

Filed under: personality

Mencapai Potensi Hidup Yang Maksimal

Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.

Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :

* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.

* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri

* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.

* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi…
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.

* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun
Kita harus bersikap :” Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana.” Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.

* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.

* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !

( Dikutip dari : Mencapai potensi hidup yang maksimal by Joel Osteen)

 

Filed under: pendidikan, personality

Kecerdasan Emosional

Selama ini banyak orang menganggap bahwa jika seseorang memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi, maka orang tersebut memiliki peluang untuk meraih kesuksesan yang lebih besar di banding orang lain. Pada kenyataannya, ada banyak kasus di mana seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual yang tinggi tersisih dari orang lain yang tingkat kecerdasan intelektualnya lebih rendah. Ternyata IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi tidak menjamin seseorang akan meraih kesuksesan.

Daniel Goleman, seorang profesor dari Universitas Harvard menjelaskan bahwa ada ukuran/patokan lain yang menentukan tingkat kesuksesan seseorang. Dalam bukunya yang terkenal, Emotional Intelligence, membuktikan bahwa tingkat emosional manusia lebih mampu memperlihatkan kesuksesan seseorang.

Intelligence Quotient (IQ) tidak dapat berkembang. Jika seseorang terlahir dengan kondisi IQ sedang, maka IQ-nya tidak pernah bisa bertambah maupun berkurang. Artinya, jika seseorang terlahir dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup, percuma saja dia mencoba dengan segala cara untuk mendapatkan IQ yang superior (jenius), begitu pula sebaliknya. Tetapi, Emotional Quotient(EQ) dapat dikembangkan seumur hidup dengan belajar.

Kecerdasan Emosional (EQ) tumbuh seiring pertumbuhan seseorang sejak lahir hingga meninggal dunia. Pertumbuhan EQ dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, dan contoh-contoh yang didapat seseorang sejak lahir dari orang tuanya. Kecerdasan Emosi menyangkut banyak aspek penting, yang agaknya semakin sulit didapatkan pada manusia modern, yaitu:

 

·         empati (memahami orang lain secara mendalam)

·         mengungkapkan dan memahami perasaan

·         mengendalikan amarah

·         kemandirian

·         kemampuan menyesuaikan diri

·         disukai

·         kemampuan memecahkan masalah antar pribadi ketekunan

·         kesetiakawanan

·         keramahan

·         sikap hormat

Orang tua adalah seseorang yang pertama kali harus mengajarkan kecerdasan emosi kepada anaknya dengan memberikan teladan dan contoh yang baik. Agar anak memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, orang tua harus mengajar anaknya untuk :

·         membina hubungan persahabatan yang hangat dan harmonis

·         bekerja dalam kelompok secara harmonis

·         berbicara dan mendengarkan secara efektif

·         mencapai prestasi yang lebih tinggi sesuai aturan yang ada (sportif)

·         mengatasi masalah dengan teman yang nakal

·         berempati pada sesama

·         memecahkan masalah

·         mengatasi konflik

·         membangkitkan rasa humor

·         memotivasi diri bila menghadapi saat-saat yang sulit

·         menghadapi situasi yang sulit dengan percaya diri

·         menjalin keakraban

Jika seseorang memiliki IQ yang tinggi, ditambah dengan EQ yang tinggi pula, orang tersebut akan lebih mampu menguasai keadaan, dan merebut setiap peluang yang ada tanpa membuat masalah yang baru

 

 

Filed under: personality

Inteligensi dan IQ

 
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :

Faktor bawaan atau keturunan

Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

Faktor lingkungan

Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Inteligensi dan IQ

Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Pengukuran Inteligensi

Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.

Inteligensi dan Bakat

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.

Inteligensi dan Kreativitas

Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Filed under: personality

TIPE KEPRIBADIAN APAKAH ANDA INI

 Sejak saya (dulu) masih bekerja disebuah perusahaan agrobisnis—dan saya menjadi seorang administrasi dan juga menjadi office boy saya selalu bekerja sesuai dengan profesionalisme bagi para pekerja pada umumnya. Walaupun saya bekerja dengan double job dengan mendapatkan salary yang cukup kecil setiap bulannya. Tapi itu bukan masalah bagi saya—hingga akhirnya saya mengundurkan diri.

 

Namun yang menjadi masalah disini, saya mersa terdzalimi oleh sikap si bossy yang sering kali memperolok-olok dan mengkritik say  tanpa sebab yang pasti. Entah, apa pun saya kerjakan dimatanya pasti saya selalu dipandang salah. Bukan itu saja saya sering mendaptakan kritikan yang membuat “down”  diri saya. Akhirnya saya berpikir kalau saya tiap hari di perlakukan seperti ini—sebagai manusiawi rasanya ingin “memusnahkan” orang semacam seperti itu dimuka bumi.

 

Hingga saya teringat pada masa-masa kuliah saat OSPEK. Dimana saya sering dengar dari kakak kelas (baca: senior) saya bilang,” senior selalu benar…! Boleh jadi itu benar, meski saat berada pada posisi sebagai peserta atau bawahan tapi pastinya akan berontak. Memang sulit untuk menjelaskan seseorang mudah disukai orang lain termasuk si bossy dan si senior  tadi. Dilain pihak cukup mudah bagi kita untuk mengetahui seseorang tidak disukai oleh orang lain disekitarnya. Dibawah ini ini saya akan menunjukan tipe kepribadian negatif yang selalu timbull kepada saja yang menjadi penyandangnya.. Celakanya sampai pada batas-batas tertentu, semua ternyata sama-sama kita miliiki sifat seperti itu.

 

1. Pengkritik

 

Dunia ini benar-benar penuh dengan orang-orang yang hobinya mengkritik. Anda mau tidak mau harus menerima keberadaan mereka. Bahkan Anda sendiri mau membayar mereka untuk menujukan film apa yang harus Anda tonton, buku mana saja yang harus dibaca, dan tempat shoping mana yang harus dikunjungi.

 

Pengkritik professional dan konstruktif memang bisa memberikan pelayanan yang berharga. Saya juga tidak menyesali keberadaan mereka, namun kalau mereka tidak memanfaatkan kekuatan atau pengaruh mereka untuk mengeksploitir orang lain! Itu baru saya setuju, tapi kalau seperti itu juga tindakannya. Maaf saja perlu diwaspadai.

 

Pengkritik yang sering Anda jumpai adalah pengkritik yang berdiri disetiap sudut jalan, disetiap kantor dan juga dirumah. Berbeda dari para pendapat negatif terhadap segala hal baik itu menyangkut sesuatu yang ingin Anda dengar atau tidak. Pengkritik seperti ini sering merasa serba tahu dan paling pintar. Mereka mengumbar kritik, tidak peduli apakah orang yang mendengannya sesungguh mau mendengarkan atau tidak

 

Sebagaimana telah saya uraikan sebelumnya, hampir semua pengkritik pada dasarnya adalah orang-orang yang mengalami frustasi dihantui oleh rasa takut terhadap kegalalan. Karena dalam menilai diri sendiri hasilnya serba getir maka mereka sengaja meluangkan waktunya untuk melakukan evaluasi terhadap diri sendiri dan berkesempatan untuk memetik kepuasaan karena telah memberikan “pandangan yang amat brilian terhadap kejelekan dunia dan kesalahan orang lain.” Brendan Behan mengatakan dengan tepat,” Para pengkritik adalah seperti pria yang di-kebiri oleh sang harem-nya. Mereka merasa tahu bagaimana cara melakukan sesuatu , merasa melihat segala hal yang perlu dikerjakan, tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Cepat atau lambat Anda pasti akan muak terhadap pengkrtik dan menginginkan mereka untuk segera menyingkir. Biasanya mereka akan sakit hati dan bersiap-siap melemparkan kesalahan kepada Anda, begitu ada sesuatu yang tidak beres. Mereka merasa layak mendapatkan perlakuan yang lebih baik, karena mereka merasa berniat membantu Anda!

 

Yang terakhir sebelum melancarkan kritik kepada orang lain, pastikanlah bahwa perilaku And sendiri sudah benar. Louis Nizer sang penulis pernah menulis perimngatan yang baik kepada semu, antara lain berbunyi,” Apabila seseorang mengarahkan jari telunjuknya kepada orang lain, perlu diingat bahwa keempat jarinya yang lain justru mengarah kepada dirinya sendiri.” Seperti pepatah lama yang sering Anda dengar, “Senjata Makan Tuan.” Jadi berhati-hatilah menunjuk seseorang  dengan krtikan Anda sebelum Anda berkaca diri! 

  

2. Si Agresif

 

Orang-orang yang agresif cenderung mengejar pemenuhan suatu tujuan bagaikan seekor badak liar yang—maaf—nafsu birahinya—meluap-luap. Seperti penganjur falsafah Lombardi yang familiar yaitu,” Kemenangan bukan segal-galanya didunia, melainkan ‘satu-satunya’ hal penting di dunia ini.” Mereka begitu mudah meng-identifikasikan dirinya sebagai pahlawan seperti Teddy Roosevelt, Jenderal George Patton dan tokoh-tokoh terkenal lainnya yang bersikap “tidak seorang pun akan mampu melebihi saya.”

 

Orang yang terkenal agresif senantiasa mempunyai hasrat menyala-nyala dan hampir tidak pernah puas untuk menguasai dan mengendalikan orang lain. Taktiknya yang cenderung bersifat kasar dan memaksa, biasanya terpancar secara jelas dari wajah kerasnya. Orang yang bersikap agresif hanya dapat mencapai tujuan melalui kekerasan dan biasanya mereka tidak ragu-ragu untuk bersitegang  leher dan  ber-konfortasi  dengan orang lain. Padahal orang–orang lain memnadang orang bersikap agresif itu sebagai gangguan dan percerminan sikap negatif yang sebenarnya tidak perlu ditampakan. Orang yang agresif tidak pernah mengetahui perbedaan sikap agresif dengan sikap tegas!

 

Seorang Charlotte MacDonald pernah mengatakan,” Sikap agresif merupakan senjata ampuh untuk berperang, tetapi sikap tegas merupakan suatu keterampilan yang lebih unggul guna memenangkan suatu situasi apabila bisa dipraktekan secara efektif, dan akan membantu  semua orang yang terlibat didalamnya.”

 

3. Tukang Gosip

 

Ssstt…jangan bilang siapa-siapa ya kalau si  anu, si informasi ini sama siap itu ternyata begitu lho?” Dan bla…bla…bla….Eh, ingat ya jangan dibocorkan -siap. Janji lho!”

 

Orang yang suka bergosip selalu mengkhayalkan dirinya ebagai sumber informasi. Mereka merasa mengetahui aneka cerita yang sebenarnya yang paling rahasia, mengenai segala sesuatu yang telah terjadi dan merasa puas memberikan sesuatu kepada Anda apabila Anda berjajnji tidak membocorkannnya kepada siapapun juga. Intinya, mereka itu tau segal hal tentang berita yang tak pasti. Namun ketahuilah bahwa sesunguhnya, satu-satunya informasi penting dari orang-orang yang gemar bergosip adalah bahwa mereka biasanya tidak memngetahui cerita atau pun masalah yang sebenarnya!

 

Cepat atau lambat orang-orang yang senang bergosip akan menemui kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang  lain. Pada akhirnya akan terungkap bahwa segala hal informasi tidak dapat dibuktikan kebenarnya atau bahkan akhirnya berkembang menjadi berita yang tidak benar. Orang-orang yang senang bergosip itu sebenarnya memandang segala sesuatu kedalam hanya dari kulit permukaaan saja atau dari luar saja!

 

Mark Tawin pernah mengatakan,” Suatu kebohongan dapat merajalela sampai merambah separuh lingkaran dunia, sedangkan kebenarannya hanya terletak pada bidang tanah dibawah sepatunya.”

 

4. Sang Moralis

 

Orang semacam ini mulai beraksi dengan menceritakan orang lain tentang bagaimana seseorang harus hidup ideal. Dari sudut pandangan seorang moralis, hidup didalam dunia yang serba mutlak dan segala-galanyanya yang dikuasai.

   

Keberadaan seorang moralis biasanya mudah diketahui. Salah satunya yakni ketika memberikan nasehat tentang bagaimana harus bersikap, berpakaian, cara bicara, merapikan meja kantor, memilih reakn-rekan kantor atau teman-teman se-level-nya. Keyakinannya begitu teball terhadap “kebenaran” dan berbagai hal yang serba ideal sehingga gagasan hidup dan memberikan hidup secara sederhana sama sekali tidak sesuai dengan pandangannya.

   

Hampir semua orang akan mendaptkan giliran dicerca oleh par moralis. Ejekannya yang halus adalah,” Anda rupanya tidak mampu membuat keputusan sehingga saya terpaksa mengambil alih membuat keputusan ini untuk Anda. Kalau Anda tidak mengikuti saran saya ini Anda akan mendapatkan malu!”

 

5. Si Martir

 

Seorang martir adalah orang yang senang dimanipulir oleh orang lain dengan suka rela menempatkan dirinya sebagai anak domba yang dipersembahkan dimeja altar sebagaii persembahan. Sebagaimana halnya para moralis, senjata utama seorang martir adalah kesalahan. Perbedaannya adalah bahwa moralis mendorong Anda untuk merasa bersalah, sedangkan martir  memanfaatkan kesalahan orang lain lain menurut  cara terselubung. Baik dengan ucapan-ucapan atau tindakan seorang martir sengaja menunjukan kepada Anda merek rela mengorbankan kebutuha dan dirinya demi kepentingan Anda bahwa Anda adalah orang yang terlalu mementingkan diri sendiri, sembrono. Acuh tak acuh apabila Anda tidak bersedia melakukan ssesuatu sesuai dengan keinginannya.

 

Meskipun seorang martir senantiasa menonjolkan jeritan dan bobot pengorbannya, mereka sesungguhnya adalah orang yang paling mementingkan diri sendiri. Sudah barang tentu seorang martir tidak benar-benar berkorban. Mereka menikmati semacam kepuasaan tersendiri karena mereka berkesempatan memetik keuntungan tertentu di dalam taktik anak domba yang dikorbankannya tadi. Jadi begitu Anda mengenali orang semacam ini dan acuhkan jeritan kepedihannya. EGP ajalah! Mengapa tidak! Kalau Anda tidak memperhatikan nanti Anda sendirii yang akan menjadi “tumbal” berikutnya. Menaruh perhatian kepada seorang martir hanya akan membuang waktu secara sia-sia saja.

   

6. Si Tuan Perfeksionis

 

“Saya selalu sempurna dalam segal hal?”Banyak diantara kita yakin bahwa falsafah semacam itu merupakan kunci untuk dapat hidup secara efektif ; tetapi ketahuilah bahwa kenyataan sebenarnya tidak demikian!

 

Berhadapan dengan orang- orang perfeksionis seringkali hanya merupakan pemborosan waktu dan tenaga. Jelas apabila Anda tidak berhati-hati, waktu dan tenaga Anda pun akan hilang tanpa hasil yang memadai sebagaimana yang diharapkan. Jika Anda lengah Anda akan terdorong membuat suatu kesalahan yakni sama saja bekerja sama dengan orang perfeksionis. Salah satu diantara mereka  yaitu orang yang selalu bertepuk dada meyombongkan dirinya sebagai orang perfeksionis, terus menerus menulis kembali naskahnya, memeriksa, mengkritik dan selalu menekankan kepada kedua rekannya untuk turut mengikiuti caranya. Ibarat “setali tiga uang!”

 

Banyak orang yang membayangkan dirinya sebagai perfeksionis ternyata adalah pemimpi yang presrtasinya kurang atau bahkan tidak berprestasi sama sekali!

   

7. Penggemar Hal-Hal Sepele

 

Mereka yang selalu mengerjakan hal-hal yang sepele biasanya senantiasa sibuk dan menyibukan orang lain. Pada kenyataannya, satu-satunya tujuan adalah menyibukan orang lain itu sendiri dan membuat sibuk dirinya sendiri. Mereka adalah korban klasik dari teori-teori usang yang mengatakan “aktivitas itu sama dengan produktivitas”.

 

Semua orang pada akhirnya akan merasa jemu, muak dan ilfil memberitahukan kepadanya bahwa sesorang yang tengah melompat dan memercik-mercik air tidak berarti mereka sedang berenang.

 

8. Si Sumbu Pendek

 

Orang semacam ini bisanya bereaksi secara berlebih-lebihan dan terlalu cepat mengambil tindakan tanpa berhenti memikirkan situasi yang sedang dihadapi. Akibatnya mereka sering menjadikan sutau masalah lebih rumit atau menimbulkan konflik tanpa guna yang sesungguhnya tidak perlu terjadi. Bertolak dari dari sudut pandangan mereka, setiap masalah baru adalah suatu masalah yang sangat mendesak dan penting sekali. Perasaannya selalu dibaluti semangat yang meluap-luap dan mereka mudah kehilangan kendali perasaannya,. Karena tidak memiliki wawasan sebagai masalah yang sebenanya tidak perlu diurus sehingga mereka sebagai akibatnya justru seruingkali menciptakan kesulitan untuk dirinya sendirinya maupun orang lain

 

9. Si Pembual

  

Satu-satuunya hal yang dilakukan oleh para pembula tidak lain adalah meyakinkan orang bahwa mulut mereka adalah lelebih besar, citra diri mereka lebih kecil dan kehadirannya selalu memuakkan. Wilson Mizner pernah mengingatkan kita,” Jangan berbicara mengenai diri sendiri, karena sifat-sifat Anda yangasli akan muncul dengan  sendirinya setelah Anda masuk ke liang kubur.”

 

10. Orang-Orang Yang Berlaku Sinis

 

HL Mencken suatu ketika mengatakan,” bangkai.” Orang yang bersikap sinis biasanya adalah orang yang apabila mencium bau wangi bung, malah mencari bau busuk.”

   

Inilah sifat orang yang selalu mencari-cari sisi negatif. Mereka selalu berusaha mengganggu kesenangan orang lain. Sebagian besar orang yang bersikap sinis ternyata adalah kaum idealis yang kecewa. Harry Emerson Fosdick memberi saran yang mujarab umtuk menghadapi orang-orang semcam itu yaitu,” Perhatikan orang yang selalu bersikap sinis, maka Anda akan segera mengetahui kelemahan mereka.”

   

11. Seniman Yang Meremehkan Orang Lain

   

Sebagaimana halnya dengan pembual, maka orang yang selalu meremehkan orang lain dengan cara merendahkan diri sendiri biasanya merasa lebih hebat dari orang lain. Tetapi tindakannya itu itu dilandasi oleh asumsi yang keliru bahwa dengan meremehkan orang lain lewat merendahkan diri sendiri akan menjadikan dirinya serba  lebih baik.

   

Orang yang selau meremehkan orang lain kadang-kadang melakukan pendekatan yang agak halus sehingga apabila Anda tidak berhati-hati, Anda pun akan terjebak ditengah-tengah permainan mereka. Misalnya ; Orang akan meminta saran Anda, tetapi kemudian menolak samua usulan pemecahan masalah yang Anda kemukakan. Disamping itu orang yang merendahan diri acapkali sengaja bertujuan mempermainkan Anda dan orang lain. Apabila Anda tidak segera mengambil tindakan yang tepat untuk menyingkirkan mereka, akibatnya waktu dan tenaga akan banyak terbuang begitu saja hanya untuk terlibat didalam pertengkaran sengit yang sebenarnya sama sekali tidak perlu terjadi.

   

12. Penipu

 

Ingat film “Liar-liar” yang diperankan oleh Jim Carrey. Dimana seorang aktor komedi ternama Jim Carrey memerankan seorang pengacara yang jago berbohong dari segi apa pun. Walau ia tahu bahwa kilennya itu bersalah dan memanipulasi kejahatannya.

   

Orang semacam ini berpenampilan berbagai bentuk dan ukuran, semua penipu sama-sama menujukan satu cirri khas yang menonjol yaknia tidak memiliki integritas. Dengan jalan apapaun mereka senantiasa berusaha keras menipu orang-orang lain untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Bergaul dengan seorang penipu biasanya sulit karena susannya selau penuh dengan tipu muslihat dan menyita waktu, terutama apabila Anda tidak cukup mengenal sifat-sifat mereka maka resiko bahaya dari orang semacam ini Anda akn terima akibatnya..

 

Ketahuilah bahwa cukup banyak penipu yang berkelairan disekitar Anda. Namun dengan mengendalikan perilaku diri sendiri, Anda akan mmapu mengurangi dampaknya yang negatif terhadap efektifitas Anda sampai seminimal mungkin. Obat yang paling mujarab guna mengatasii sifat kasarnya adalah dengan berusaha untuk tidak imut-ikutan nmenjadi orang kasar.

   

Demikianlah segala yang saya uraikan tentang tipe-tipe kepribadian seseorang dari karakter, sikap dan sifapnya. Jadi saya berpesan kepada Anda semua, khususnya diri saya sendiri semoga kita jangan mempunyai skak dan sifat seperti yang saya uraikan dan menghindari sifat yang (berkeripadian) yang sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Semoga!

Filed under: personality

Makin Sering Mengalami Flow, Makin Sejahtera

Setiap hari kita dihadapkan pada tugas atau target yang harus dicapai dalam tenggat waktu tertentu. Banyak hal yang dapat menjadi penyebab kita terjebak dalam situasi dikejar waktu. Mungkin karena didesak kebutuhan ekonomi, banyaknya peran yang diemban, menjadi bagian dari sistem yang mengutamakan kecepatan, dsb.

Selain itu, sebagian dari kita mungkin lebih banyak dihadapkan pada tugas yang monoton, membosankan. Ada pula saudara-saudara yang selalu dihadapkan pada tugas yang menegangkan, misalnya bekerja di tengah kebisingan atau tungku panas di pabrik baja, dsb.

Berbagai keadaan seperti itu menyebabkan kita jarang bisa menikmati apa yang tengah kita lakukan. Akibat lebih jauh lagi, mungkin kita mengalami stres, lelah mental, atau bahkan burn-out.

Keadaan ini jelas jauh dari gambaran tentang kebahagiaan atau kepuasan hidup yang kita angankan. Agar lebih dapat merasa sejahtera secara psikis (puas dan bahagia) kita semestinya memiliki lebih banyak pengalaman flow pada saat melakukan sesuatu, yaitu dengan menikmatinya.

Flow, Apa itu?
Flow tentu saja tidak sama dengan fly, tetapi dua hal ini terasa berkaitan. Bila seseorang melakukan sesuatu, misalnya mendengarkan musik kesukaan dengan penuh cita rasa kenikmatan, kesadarannya berubah. Ia tidak lagi merasakan dirinya sebagai hal yang terpisah dengan alunan musik itu.

Diri terhanyut bersama sesuatu yang sedang dilakukan, itulah flow! Selama ini gejala seperti itu kadang disebut fly (terbang). Padahal, fly memiliki konotasi keadaan melayang karena menggunakan napza. Nah, flow dan fly memang serupa, tetapi tak sama.

Flow mulai diteliti oleh Csikszentmihalyi pada tahun 1975, dan saat ini mulai menjadi topik yang digemari dalam Psikologi bersamaan dengan bergulirnya Psikologi Positif (Psikologi yang berfokus pada kekuatan dan kesejahteraan psikologis manusia). Csikszentmihalyi meneliti hal ini dalam konteks risetnya mengenai kesejahteraan psikologis.

Setelah mewawancarai lebih dari 200 responden, Csikszentmihalyi melahirkan definisi flow sebagai berikut:
Flow menggambarkan suatu sensasi yang holistik yang terwujud ketika kita melakukan tindakan dengan keterlibatan penuh… Ini merupakan kondisi di mana tindakan demi tindakan berjalan menurut logika internal yang tampaknya tidak memerlukan intervensi kesadaran dalam diri kita. Kita mengalaminya sebagai suatu kesatuan yang mengalir dari satu momen ke momen berikutnya, di mana kita merasa berada dalam kendali tindakan kita tersebut, dan dalam hal ini hanya terdapat sedikit perbedaan antara diri dan lingkungan; antara stimulus dan respon; atau antara masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.
(Csikszentmihalyi, dalam Compton, 2005)

Dalam penelitiannya terhadap orang-orang di Amerika dan Eropa, Csikszentmihalyi menemukan bahwa sekitar 20 persen dari responden yang mengaku sering memiliki pengalaman flow, kadang beberapa kali dalam sehari. Hanya sekitar 15 persen responden yang mengaku tidak pernah memiliki pengalaman flow; dan juga sangat kecil responden yang mengalami flow secara intensif.

Para responden yang mengalami flow, baik yang intensif maupun sedang, mengakui kaitan erat antara flow dengan kesejahteraan psikologis. Flow dirasa sangat baik dan merupakan elemen dari kesenangan / kegembiraan / kenikmatan.

Flow dan Aktualisasi Diri
Orang yang telah mengaktualisasi diri adalah orang yang telah mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Menurut hasil penelitian Maslow, tahapan aktualisasi diri hanya dapat dicapai bila individu telah terpuaskan dalam empat tingkat kebutuhannya yang lebih rendah (fisiologis, rasa aman, cinta, penghargaan) dan menjunjung tinggi Being-values. Seperti telah dijelaskan dalam edisi GHS sebelum ini, Being-values terdiri dari 14 nilai/kebutuhan. Salah satu di antaranya adalah nilai/kebutuhan tanpa upaya (effortlessness).

Nah, mengenai nilai tersebut kini kita melihat secara lebih jelas dalam fenomena terjadinya flow. Seperti dijelaskan dalam definisi di atas, flow merupakan kondisi di mana tindakan demi tindakan berjalan menurut logika internal tanpa memerlukan kesadaran, dan kita merasa berada dalam kendali tindakan kita tersebut.

Jelas bahwa kondisi ini merupakan kondisi tanpa upaya.
Pada orang-orang yang telah mengaktualisasi diri, keadaan tanpa upaya ini menjadi nilai atau kebutuhan. Mereka terus mengembangkan keahlian atau keterampilan, sehingga tercapai keadaan tanpa upaya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mereka yang telah mengaktualisasi diri lebih banyak mengalami flow.

Dalam keadaan kurang terampil melakukan sesuatu yang menjadi tugas kita, kita akan merasakan apa yang kita lakukan untuk menyelesaikan tugas tersebut sebagai sesuatu yang penuh upaya. Seperti saat mengoperasikan program komputer yang belum familiar, belajar memetik gitar, kita melakukannya dengan penuh upaya, tanpa dapat menikmatinya. Keadaan seperti itu tidak memungkinkan kita mengalami flow.

Nah, sekilas kita telah melihat bahwa flow berkaitan dengan penguasaan suatu aktivitas yang menantang dan memerlukan keterampilan. Ini merupakan salah satu prasyarat untuk dapat mengaktualisasi diri.

Flow Tingkatkan Kesejahteraan Psikologis
Csikszentmihalyi dalam bukunya di tahun 1990 menyatakan bahwa kualitas hidup kita ditentukan oleh kemampuan kita mengendalikan kesadaran. Kemampuan tersebut menghasilkan keteraturan dan kesejahteraan psikologis yang lebih besar. Sebaliknya, kurangnya kemampuan mengendalikan kesadaran akan menghasilkan gangguan dan berbagai kondisi ketidakpuasan.

Yang dimaksud kendali (control) dalam hal ini adalah keterampilan yang dipelajari yang mencakup regulasi yang seimbang dari pikiran, emosi, perilaku, dan perhatian. Flow membantu menciptakan keteraturan semacam ini dalam kesadaran. Itulah sebabnya flow dinilai sebagai keadaan yang menghasilkan kesejahteraan psikologis.

Kemampuan mengendalikan kesadaran dan meningkatkan kemungkinan pengalaman yang optimal akan meningkatkan rasa unggul (the sense of mastery), suatu perasaan berpartisipasi dalam hidup, dan kemampuan untuk menentukan isi hidup dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya.

Csikszentmihalyi mengamati apa yang terjadi sepanjang pengalaman flow dengan setelah pengalaman flow. Ia menjelaskan bahwa selama terjadinya flow, meningkatnya kesejahteraan terjadi karena lebih efisiennya organisasi kesadaran. Selama terjadinya flow, tersedia informasi dalam kesadaran yang sesuai dengan tujuan, dan dalam kondisi tersebut energi psikis akan mengalir tanpa usaha.

Csikszentmihalyi menyatakan: “Bila informasi yang masuk dalam kesadaran selaras dengan tujuan-tujuan kita, energi psikis mengalir tanpa perlu usaha. Dengan demikian, bagian dari pengalaman flow adalah berkurangnya konflik internal antarberbagai tujuan yang ada. Sesudah terjadi flow, terjadi peningkatan kesadaran lebih lanjut. Selain itu terdapat perasaan bahwa diri sendiri menjadi lebih terintegrasi.”
Csikszentmihalyi yakin bahwa kemampuan untuk berada dalam kondisi terserap dan penuh minat terhadap pengalaman sehari-hari merupakan salah satu ramuan penting untuk kebahagiaan dan hidup yang mengalami kepenuhan. Ia mengatakan bahwa langkah pertama untuk lebih menikmati hidup adalah belajar merekayasa aktivitas sehari-hari untuk memperoleh pengalaman berharga.

Yang dimaksud merekayasa pengalaman sehari-hari oleh Csikszentmihalyi adalah sebanyak mungkin bertindak dengan menemukan keseimbangan yang terbaik antara keterampilan dan tantangan. @

Filed under: personality

Aku, yang mencari kedamaian sejati. Seorang Counselor Sekolah. Seorang Pengabdi sejati. Menebar cinta kasih sayang dan mencari kasih sayang dan cinta yang pernah hilang. Mari berbagi dalam suka dan duka

KALENDER

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

SELAMAT DATANG, ANDA TAMU SAYA YANG KE

  • 87,555 hits

Tulisan Teratas

RSS BERITA

RSS BERITA DUNIA ISLAM

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Blog ku yang Lain

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

ILUSTRASI

More Photos
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.
DSCN1416
PANTAI INDAH

KAWAN

DSC01737
MASJID ISLAM

aku tahu

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

PB205894

PETA PENGUNJUNG

KATEGORI

RSS PERGERAKANKU

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

COUNTRIES SHOW

free counters
DSC01734
DSC01740
DSC01737
DSC01212
DSC01215
DSC01219

SELAMAT PAGI DUNIA

Selamat Pagi Dunia

Mendambamu sepanjang hidupku

Ketika terduduk dalam keterasingan disudut pulau, aku sanggupp membaca guratan merah cakrawala ufuk barat senjahari bahwa akan ada keabadian setelah semua ini sirna. Menjadi abadi yang sempurna, tatkala kematian diselimuti dengan senyuman kepuasan akan kenikmatan tunduk kepada kuasa Tuhan. Menjadi abadi yang sempurna, ketika kita mendamba cinta tak bernoda yang sanggup kita genggam meski ombak badai menerjang terjang. Ketika terduduk dalam keterasingan disudut pulau.... aku begitu mengharu biru menyambut cinta yang hadir kembali menemani asa yang hampir mati Aku, meski tersudut sepi, disebuah pulau tak berperadaban....tetapi selalu kudamba engkau untuk menerangi hidup hingga akhir hayat