Judul yang aku buat mungkin terlalu provokatif atau apalah namanya. Tetapi dari sedikit penelaahanku, aku menemukan sebuah fakta baru, sebuaah sintesa, betapa sangat gambang mengusir dan memarjinalkan numat islam di Batam dan sekitarnya. Tulisanku ini juga terinspirasi barangkali dengan salah satu artikel Buletin Jumat yang terbit minggu ini, yang membahas tentang maraknya peternakan babi di batam. Loh… apa hubungnnya babi dengan judul yang agak bernuansa “sara” tersebut?
Barangkali memang aku harus jujur, meskipun aku adalah pengajar pelajaran sosiologi sekaligus mata kuliah ISBD. tetapi harus aku akui rasa primordialis alamiahku muncul, karena faktor keyakinan yang melekat kuat dalam jiwaku. Islam, agamaku, terlalu sirik umat lain sehingga benar-benar tidak menginginkan Islam berkembang dan terus berkembang di seantero jagat. Selalu ada saja cara-cara yang naif, tidak bijak, kotor, dan pengecut yang ditujukan untuk membendung menyebarnya Islam. Taruhlah salah satu contoh yang bisa kita angkat adalah isu-isu barat yang terus menggulirkan isu terorisme yang setali tiga uang dengan Islam. Tetapi aku bersyukur justru dengan penggembosan macam itu, Islam malah membuat banyak penasaran orang barat sehingga mereka belajar Islam dan masuk Islam dengan keyakinan yang justru lebih kuat dari pada umat muslim sendiri. Seperti berita akhir-akhir ini, di beberapa negara bagian Amerika dalam satu minggu ada dua orang yang menyatakan masuk Islam. Senjata makan tuan, bukan?
Di Batam, kerisauanku bermula pada adanya acara di Stadion Tumenggung Abdul Jamal umat tertentu menggelar pengobatan massal dan persahabatan, sebuah kedok yang picik dan pengecut untuk memurtadkan umat islam. Sebuah cara yang sama sekali menimpang dari kaidah hak asasi manusia memaksa orang berpindah keyakinan dengan lantaran pengobatan yang juga penuh dengan kebohongan yang di lakukan seorang petinggi agama. Untunglah MUI batam tanggap sehingga menggelar spanduk dengan upaya pelarangan umat Islam untuk tidak menghadiri acara permutadan berkedok pengobatan tersebut. Sehingga fantastis,masyarakat muslim berangsur sadar bahwa acara ini haram diikuti oleh umat Islam karena bakal tergadai Islam kita kalau sekiranya menghadiri acara tersebut. Pihak departemen agama hendaknya juga tanggap akan hal ini, dan bertindak tegas melarang penyebaran agama dengan cara-cara licik dan pengecut seperti itu.
Setelah menjamurnya spanduk pelarangan mengikuti acara tersebut, seolah memiliki unsur kesengajaan sebuah situs batak “lapotuak” menampilkan kepengecutan yang lebih menjijikkan dan terkesan menampilkan kefrustasian. Apa gerangan? Situs tersebut memuat kartun nabi Muhammad dan melecehkannya. Astaghfirullah. Mendidih darahku menyaksikan itu. Keimananku makin mantap, semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin bertiup. Keagungan Islam, akan terus mendapatkan cobaan ini. Dengan ini justru Islam akan menunjukkan sinarnya.
Umat Islam di Batam jelas mendapatkan teror yang semakin tinggi intensitasnya. Hubungannya dengan judul tulisan ini, bahwa maraknya peternakan babi di Batam adalah modus baru untuk memarginalkan Islam atau lebih tepat mengusir umat Islam dari tanah yang sudah ditempatinya berpuluh tahun. Maka dengan terusirnya kaum muslin yang tidak mau dekat dengan binatang haram tersebut, berlanjut dengan pendirian rumah ibadah baru yang sebelumnya tidak ada. Maka umat lain serta merta menampati wilayah yang sudah ditinggalkan umat muslim tersebut. Sebuah modus yang lihai, licin tetapi licik dan pengecut. Maka bisa kita saksikan di batam saat ini muncul peternakan-peternakan babi liar. Bisa cek di seputar bandara dan paling banyak adalah wilayah batu aji.Bagaiman umat Islam bersikap dengan hal ini? To be continued
Filed under: Dakwah Islam, celoteh dan tulisan-ku, pendidikan















komentar anda