DAri tulisanku yang telah lalu dah aku sampaikan kelulusanku sebagai CPNS di Bintan. Tetapi sampai saat ini aku masih menunggu SK turun. Seiring masa menunggu, kebertuntungan tidak berfihak padaku sebab mulai Maret ini aku harus berhenti mengajar dari sekolah kebanggaanku, yang memberikan pengalaman yang luar biasa,SEKOLAH HANGTUAH. Saat itu sehabis aku ngawas tryout SMA, aku dipanggil kepala sekolah dan menjelaskan bahwa saya mesti berhenti toh Pak Kus tinggal nunggu aja. Ya aku tak bisa apa-apa, padahal keinginanku sangat besar untuk tetap bersama anak-nak kelas 3 ips menhantarkan kelulusan mereka. Tetapi mungkin sampai segini kebersamaanku dengan Sekolah Hang Tuah Batam. dan Aku sangat berterima kasih kepada Pak Aris, bahwa dua bulan terakhir aku masih bolah ngajar disaat temen-temen lain yang lolos PNS dan “dipecat”.Terimakasih juga untuk Profesor-ku Bapak H. Imbalo. Mengenal baliau adalah anugrah terbesar yang pernah Allah berikan padaku. Terima kasih buat semuanya.
Lantas apa yang aku lakukan? Berhenti mengajar berarti berhenti juga aliran dana ke kocek dan ke dapur. Saat ini apapun jadi aku lakukan yang penting halal. Jadilah kau tukang ojek. Awal sungkan, rikuh, gak enak. Tetapi ketika aku jalani toh bisa juga. Asyik malah. Aku memang harus menjalaninya sementara waktu, apalagi ISBD yang aku ajar di Kampus Akbid Putrajaya Mandiri hanya ada pada semester 1 dan nkemarin dah ujian. Maka habis juga aku mengajar di sana tunggu semester satu lagi alias mahasiswa baru lagi.
Aku tidak akan mengatakan bahwa ini tragis. Tetapi memang episod yang memang harus aku jalani. Tidak perlu menggerutu apalagi menyesali segala sesuatu yang telah terjadi. Namun begitu, aku menjadi ingat kata-kata kepala sekolahku ketika mengadapai satu persoaln yang cukup pelik dipenghujung tahun ajaran 2007/2008. Kata-kata itu adalah: ZERO TO HERO, HERO TO ZERO. Betapa kata-kata yang senantiasa membekas dalam ingatanku itu berlaku pada diriku, saat ini. Dari seorang wakasek menjadi tukang ojek. Apakah ini pilihan tentunya bukan ini lebih kepada persinggahan sementara. Seperti pengacara CICERO pada masa kekaisaran ROMAWI pada masa Pompeius. Cicero mengabdi pada pompeius tetapi ia punya ambisai untuk menduduki Jabatan tinggi, tidak cukup hanya menjadi senator tetapi lebih menuju kepada konsul. Setelah orang punya kemampuan, kemudian punya ambisi, maka tinggal menunggu dan mencari satu hal yaitu momen atau kesempatan.
Satu hal lagi, secara psikologis aku juga bisa merasakan ketika seseorang sudah dipuncak kemudaian harus berhenti dengan tiba-tiba. Maka pasti seseorang akan mengalami yang secara psikologis dinamakan sindrom. Pengetahuan ini adalah modal untuk dimasa datang bagaimana menghadapai situasi seperti ini. Aku belajar dari komunitas baruku sesama tukang ojek atau lewat obrolanku dengan pensiunan polisi sersan mayor sukimin, AKu biasa memanggil APk Min. Ia begitu tegar mengahadapi masa pensiun padahal secara fisik masih terlihat segar dan kuat.
Pada akhirnya semua hanyalah episode yang harus dijalani. Selamat Tinggal Hang Tuah
Filed under: celoteh dan tulisan-ku, opini , berita hangtuah, news














komentar anda