CAKRAWALA JIWA (Bagi Engkau yang Dahaga Jiwa)

Mendalami Jiwa layaknya menjelajahi jagad raya begitu sulit, dalam, dan berkelok tetapi diliputi keindahan bagi yang memiliki kesadaran transendental. Mengenal jiwa secara mikrokosmos adalah dasar untuk mengenall jiwa secara makrokosmos, termasuk kekuasaan Tuhan

Teh Intan, mengapa harus mundur?

NUMBING NEWS. Kami berenam awalnya adalah satu tim, tetapi barangkali tim yang memang “agak” lemah. Betapa tidak dari enam orang personil baru, jebolan tes cpns formasi 2008 di Pemkab Bintan yang ditugaskan ke Numbing, hanya kami berempat yang telah mecoba mendalami pulau Gin Besar, Numbing dan sekitarnya, bergaul dngan masyarakat, bercengkarama dengan murid-murid, dan mencoba akrab dengan senior-senior. Sedangkan dua orang lain izin karena masih diberi beban di sekolah asal sampai ujian nasional berakhir.

Dari usha-usaha yang telah kami berempat lakukan. Tragis, Teh Intan, begitu aku panggil dia belakangan ini setelah aku tahu ia berasal dari Bandung, tiba-tiba berinisiatif mengundurkan diri. Barangkali hari ini saat tulisan ini aku buat, mungkin ia telah kembali ke Batam. Kami bertiga, aku terutama, telah berusaha meyakinkannya untuk tetap melangkah maksimal sampai setahun lah, untuk tetap menerima tugas ini, amanah yang kita perjuangkan bertahun-tahun, keinginan yang tidak bisa dimiliki oleh beribu-ribu bahkan berjuta orang di luar sana. Namun ia keukeuh dalam pendiriannya untuk tidak lagi menjalani kehidupan sebagai PNS. Apalagi keinginan ia itu didukung oleh suaminya yang sempat aku kenal beberapa saat di Numbing. Alasannya, aku tak tahu pasti. Tetapi yang selalu ia risaukan, ia keluhkan adalah kondisi pulau Numbing serta fasilitas-fasilitas di dalamnya yang menurutnya sama sekali tidak memadai. Yah, tinggal aku ucapkan selamat jalan saja. Semoga sukses selalu.

Menjadi PNS sebenarnya juga bukan pilihan satu satunya. Di era ini banyak bidang yang dapat kita garap, semua tergantung cara pandang, prinsip dan semboyan yang kita pegang dalam mengarungi hidup ini.

Selamat jalan Teh Intan

Filed under: Hegemoni Wanita, Perjalanan, celoteh dan tulisan-ku

Jilbab Pakaian Wajib Bagi Muslimah

Allah SWT memerintahkan Nabi Saw untuk menyampaikan suatu ketentuan bagi para Muslimah. Ketentuan yang dibebankan kepada para wanita Mukmin itu adalah: yudnîna ‘alayhinna min jalâbîbihinna (hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka). Sedangkan kata jalâbîb merupakan bentuk jamak dari kata jilbâb. Adapun yang dimaksud dengan jilbab adalah milhafah (baju kurung) dan mula’ah (kain panjang yang tidak berjahit). Bahwa jilbab adalah setiap pakaian longgar yang menutupi pakaian yang biasa dikenakan dalam keseharian dapat dipahami dari hadis Ummu ‘Athiyah ra: “Rasulullah Saw memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah Saw menjawab, “Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya.” [HR. Muslim].

Read the rest of this entry »

Filed under: Berita Dunia Islam, Dakwah Islam, Hegemoni Wanita, celoteh dan tulisan-ku, pendidikan

Dinda Nauli Nasution, Guru Terinovatif 2008

YOGYAKARTA, JUMAT - Dari 30 peserta, Dinda Nauli Nasution terpilih sebagai juara I Lomba Guru Inovatif 2008 yang diselenggarakan Microsoft Indonesia di Yogyakarta, 23-25 Juli. Dinda mempresentasikan inovasinya mengajarkan topik Possesive Pronouns untuk anak didiknya kelas I SD.

Dinda yang sehari-harinya mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SD Binakheir School Depok Jawa Barat ini mengatakan memiliki kendala dalam mengajarkan Possesive Pronouns. “Anak-anak gampang lupa, susah ingat ketika ditanya seminggu kemudian,” ujar Dinda usai menerima hadiah laptop di Yogyakarta, Jumat (25/7).

Oleh karena itu Dinda mencari akar masalahnya dan menemukan bahwa metode penyampaian materinya yang konvensional menyebabkan anak didik merasa tidak tertarik mengikuti, padahal cuma mempelajari dan mengingat my, yours his, her, our dan sebagainya.

“Saya coba menggunakan multimedia, anak didik jadi lebih ingat, tapi tetap saja ada follow-up yang harus dilakukan melalui games dan tindakan interaktif, seperti menunjukkan sesuatu dan bertanya langsung,” ujar Dinda.

Ia mengatakan dalam zaman yang bergerak digital, guru juga harus dinamis. Tidak boleh stagnan dalam metode konvensional.Teknologi semakin berkembang dan masuk ke rumah-rumah. “Guru tidak boleh tutup mata terhadap fenomena ini,” tandas Dinda.

Menurut ketua dewan juri Ahmad Ridwan, Dinda unggul dalam kesederhanaan dan penguasaan akan materi yang disampaikannya. Dinda menggunakan banyak aplikasi secara sederhana sehingga mudah dimengerti, seperti kalimat singkat, animasi, dan video.

“Sebenarnya seperti itu yang akan mudah diingat oleh murid. Ibu Dinda memakai kata-kata sederhana, positioning dan pewarnaan yang tepat,” ujar Ridwan.

Sembilan guru pemenang lainnya adalah Herfen Suryani (Bontang, Kaltim), Sesmon Butar-Butar (Balige, Sumut), Setiyana (Bandongan, Magelang), Priyono Hadi Saputra (Kuala Kencana, Papua), Made Nuryadi (Singkole, Sulsel), Arief Wahyu Purwito (Pasuruan, Jatim), Syahriyati (Alor, NTT), Yusbiyanti Susiharyani (Pangkal Pinang, Babel) dan Reni Juwita (Gresik, Jatim).

Dinda dan sembilan guru ini akan mewakili Indonesia ke Regional Innovative Teacher Conference di tingkat Asia Pasifik pada Maret 2009 mendatang (Sumber:Kompas:25/07/08)

Filed under: Hegemoni Wanita, guru berprestasi, pendidikan

CLEOPATRA, MAMPU BICARA TUJUH BAHASA

 

 

 

Namanya selalu dikaitkan dengan aroma wewangian, pesona kecantikan wanita dan simbol seks peradaban manusia. Tapi tahukah Anda kalau ternyata Cleopatra adalah kepala negara yang tegar, penulis buku andal, serta fasih bicara dalam tujuh bahasa?

 

Mendengar nama Cleopatra, bayangan yang ada di kepala banyak orang agaknya masih sama. Wanita cantik mempesona yang menyukai kehidupan glamor sarat pesta. Meski yang tersisa hanya legenda, sosok ini nyatanya terus mendunia lewat beragam inkarnasinya yang lahir dari tangan-tangan terampil Hollywood. Sejak zaman film bisu sampai generasi sekarang, Cleopatra seakan “muncul” silih berganti dalam sosok Dewi Amor dengan berbagai nuansa.

Yang paling sering tercermin, baik di panggung opera maupun di layar perak, adalah sosok Cleo yang kehidupannya penuh kemewahan dan pesta pora beraroma birahi seperti dimainkan oleh Theda Bara (Cleopatra–1917), kemudian Claudette Colbert (Cleopatra–Cecil B. DeMille, 1934) atau Vivien Leigh (Caesar and Cleopatra, 1946) karya George Bernard Shaw. Bahkan Cleopatra yang sensual bak boneka seks nyaris tergambar sempurna dalam diri Elizabeth Taylor (Anthony and Cleopatra, 1963).

Memang, tampilan sosok Cleopatra tidak bisa dilepaskan dari kepentingan sekaligus kejujuran para pembuatnya. Kalau diperhatikan dengan seksama, citra wanita cantik ini nampak sengaja dipermainkan, atau lebih tepatnya, dicabik bagian demi bagian untuk kepentingan sesaat. Semisal dalam film All for Love, John Dryden hanya menggambarkan sepintas saja peran Cleopatra sebagai ratu Mesir secara tradisional, sementara peran tambahannya justru lebih banyak. Begitu pula penggambaran George Bernard Shaw tentang Cleopatra sebagai penyuka takhayul, yang kemudian berkembang menjadi bengis, justru menimbulkan rasa tidak simpati kalangan tertentu.

 

Cleopatra gosong

Yang menarik, belakangan muncul versi lain yang sempat memicu pro-kontra. Sampai sekarang di Museum Inggris masih tersimpan sebuah koin logam dengan relief wajah Cleopatra yang kata orang sono malah mirip Abraham Lincoln. Tak jelas, apakah olok-olok ini berhubungan dengan kontroversi tersebut atau tidak. Namun berdasar asumsi besarnya pengaruh Afrika dalam budaya Yunani dan Romawi, ada pendapat yang mengatakan bahwa Cleopatra adalah seorang wanita berkulit hitam.

Sinyalemen ini wajar, karena memang banyak sisi gelap sejarah keluarga Cleo yang tidak berhasil terkuak secara jelas. Terlebih nihilnya data sejarah yang bisa menggambarkan garis keluarga nenek dari pihak sang ayah, kecuali secuil informasi bahwa wanita yang mengandung ayah Cleopatra ini memang bukan istri sah dari Kaisar Ptolemy IX.

Versi Cleopatra gosong alias hitam ini tak pelak melahirkan silang pendapat. Mereka yang mengiyakan versi ini menyandarkan argumennya pada temuan bahwa moyang Ptolemy IX, yakni Ptolemy II yang hidup seabad sebelumnya, pernah memiliki selir wanita Mesir. Toh, kesahihan argumen ini diragukan. Apalagi kaum Ptolemy biasanya amat bangga pada darah biru dan keturunannya. Mereka cenderung menikah dengan sanak famili sendiri untuk menjaga kemurnian darah ningratnya. Kalaupun harus mengambil selir, biasanya mereka lebih memilih wanita Yunani kelas atas.

Kebanggaan kaum Ptolemy yang merasa derajatnya lebih tinggi dari bangsa Mesir, tercermin pada kepongahan mereka tak mau bertutur kata dalam bahasa setempat. Buktinya, meski sudah berdiam di Alexandria selama 300 tahun, sebagian besar tidak becus berbicara dalam bahasa setempat. Kebangetan, memang! Dalam kasus ini, Cleopatra bisa disebut orang pertama yang belajar bahasa Mesir.

Beragamnya versi tentang Cleopatra yang beredar jelas membingungkan. Siapa sesungguhnya sosok wanita ini? Bagaimana cerita Cleopatra yang sebenarnya?

Alamat yang dianggap tepat untuk mencari jawaban itu tak lain adalah Plutarch, penulis biografi asal Yunani yang hidup di abad pertama. Meski jauh berbeda dengan berbagai versi hasil “rekayasa” orang, Plutarch memang mengiyakan adanya dua sisi wajah Cleopatra yang dia temukan baik lewat peninggalan sejarah maupun kesaksian mereka yang hidup sezaman. Sebagian mengatakan bahwa Cleo adalah ilmuwan yang diakui kalangan tradisional setempat. Selain dikenal sebagai seorang dewi yang keibuan, dia juga dianggap Sang Penyelamat yang diutus untuk membebaskan bangsa Timur dari penindasan Romawi.

Di lain pihak, Plutarch juga memiliki informasi dari sumber Romawi yang isinya bertolak belakang. Di mata orang Romawi, nyaris tidak ada bagian hidup Cleopatra yang dianggap baik. Perilaku seksualnya dianggap begitu menggebu, sehingga wanita ini dicap sebagai wanita tunasusila paling kejam di dunia sekaligus pengkhianat Romawi.

 

Politisi cerdik

Dilahirkan tahun 69 sebelum Masehi, Cleopatra adalah anak ketiga dari raja Mesir Auletes yang bergelar Ptolemy XII. Raja ini terkenal dengan sebutan The Flute Player. Untuk mendapatkan dukungan dalam memegang tampuk pemerintahannya, Ptolemy harus sering mondar-mandir ke Roma, bahkan mungkin pernah ditemani Cleopatra kala ia berusia 12 tahun. Dasar lintah darat, pihak Romawi minta bayaran 10.000 talen sebagai imbalan jasa. Jumlah itu dua kali lipat APBN Mesir. Ptolemy memang tak punya banyak pilihan. Apalagi negeri yang ditinggalkan sedang menghadapi banyak masalah.

Si sulung Tryphaena, merebut kekuasaan dan tampil jadi ratu. Merasa memiliki hak yang sama, Berenice sang adik, tega membunuh kakaknya agar bisa naik takhta. Beberapa waktu kemudian, Ptolemy pulang dan dengan bantuan Roma membunuh anaknya sendiri untuk dapat merebut kembali tampuk kekuasaan.

Mestinya, sepeninggal Ptolemy XII tahun 51 SM, kerajaan diwariskan kepada Cleopatra (18) yang saat itu sudah dijodohkan dengan Ptolemy XIII yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Masa itu negeri Mesir gagal panen dan dilanda paceklik panjang. Namun Pothinus, orang kasim istana, muncul mengambil alih kekuasaan. Mengaku sebagai wali dari Ptolemy XIII yang kala itu baru 12 tahun, ia mengusir Cleopatra ke luar benteng kraton.

Pada waktu yang sama di Roma sedang terjadi perebutan pengaruh di antara anggota triumvirat – Caesar, Pompei, dan Crassus – yang memegang tampuk pemerintahan. Dalam pergolakan itu, Caesar berhasil memukul mundur prajurit Pompei yang kemudian mengungsi ke Mesir. Karena tak mau negerinya dipakai sebagai tempat persembunyian, akhirnya warga Mesir justru menangkap Pompei dan menyerahkan kepalanya kepada Caesar yang kebetulan datang ke Alexandria untuk menagih utang Ptolemy XII.

Situasi ini dengan cerdik dimanfaatkan oleh Cleopatra. Terbukti, tak sulit baginya untuk menaklukkan hati Caesar. Bermodal raganya yang molek dan kepiawaiannya merayu, dalam waktu singkat Caesar terpikat dan bertekuk lutut. Plutarch melukiskan betapa kreatif dan uniknya Cleo yang sengaja membungkus tubuhnya dengan selimut, untuk disajikan ke depan Caesar seperti barang dagangan saja. Cerita selanjutnya gampang ditebak. Setelah merasakan kehangatan tubuh dan layanan Cleo di tempat tidur, akhirnya semua permintaan wanita ini terkabul. Tak peduli kala itu Caesar sudah gaek dan botak. Yang penting, Cleopatra memperoleh kembali takhta kerajaan dan Mesir tidak perlu bayar utang kepada Roma.

Betapa gampangnya Cleo memikat dan “menundukkan” kaisar Romawi merupakan bukti, sebagai wanita ia amat piawai menghadapi lawan jenis. Terlebih mereka yang akan dimanfaatkannya. Kelebihan ini diperkuat dengan pendapat sejarawan Yunani abad ke-2, Dio Cassius yang menulis bahwa Cleo “… adalah wanita yang amat indah dipandang dan punya kekuatan untuk menaklukkan siapapun.”

Dengan pengaruhnya itu pula ia “memakai” Caesar untuk menumpas pemberontakan sekelompok prajurit Mesir yang tidak puas dengan pemerintahannya. Sejarah mencatat, insiden pemberontakan ini sempat membumihanguskan perpustakaan negera di Alexandria dan melahirkan misteri tewasnya Ptolemy XIII di Sungai Nil.

Caesar kemudian mengawinkan Cleopatra dengan Ptolemy XIV yang kala itu masih berusia 12 tahun. Langkah ini tak pelak memperkuat dugaan orang. Ternyata memang benar. Kehadiran bocah ingusan ini di sisi Cleopatra hanya dipakai sebagai tabir untuk “mengamankan” perselingkuhan mereka. Ini cara cerdik yang dilakukan Cleo sebelum akhirnya ia mau berterus terang. Apalagi tak lama setelah Caesar meninggalkan Mesir, Cleopatra hamil. Dengan perhitungan matang, mengingat Caesar tidak memiliki anak dari istri sahnya di Roma, Cleopatra menamai anaknya Ptolemy Caesar, yang dipanggilnya Caesarion.

Ia membawa anak itu ke Roma tahun 46 SM. Kedatangannya di Roma disambut meriah dan hangat, bahkan secara khusus Caesar membuat patung emas Cleopatra yang ditempatkan di kuil Venus Genetrix. Kali ini Cleopatra harus memendam kekecewaan besar, ketika pada akhirnya Caesar tidak memilih Caesarion sebagai pewaris takhta, melainkan justru memutuskan Octavian, cucu laki-laki saudaranya. Putus sudah harapan Cleo menancapkan pengaruhnya di Romawi. Dalam keputusasaan ia pulang ke Mesir.

Sakit hati Cleopatra kepada Caesar terbalaskan ketika Romawi diperintah oleh triumvirat generasi berikutnya; yakni Octavian, Lepidus dan Markus Antonius. Nama yang tersebut terakhir inilah yang kemudian berhasil “dijerat” dalam pelukannya.

Saat itu Mesir sudah berhasil memakmurkan diri, bahkan terkaya di kawasan Laut Tengah bagian timur. Kemakmuran itulah yang menarik minat Markus Antonius datang pada tahun 41 SM. Misinya mencari dana untuk membiayai peperangan melawan bangsa Parthia, sebuah kerajaan di tenggara L. Kaspia.

Kedatangan Antonius ke Mesir disambut hangat oleh Cleopatra. Berbagai jamuan pesta makan dan minum dirayakan. Kedua pihak meneken memorandum of understanding (MoU) bilateral. Cleopatra berjanji memberi dukungan material kepada Antonius dalam peperangannya melawan bangsa Parthia. Sebaliknya Antonius melindungi kepentingan dan keamanan Cleopatra, terutama dalam menyingkirkan Arsinoe, saudaranya yang terlalu ambisius. Tentu saja karena MoU tadi tak mengatur hal-hal di luar urusan kenegaraan, maka kalau hubungan pribadi kedua pelakunya berkembang lebih jauh, tidak ada pihak yang berhak melarangnya. Terbukti, antara Cleopatra dengan Antonius segera terlibat hubungan asmara. Jalinan cinta keduanya berhasil membuahkan tiga orang anak, sepasang kembar, yakni Alexander Helios – Cleopatra Selene serta Ptolemy Philadelphus.

Yang jelas, hadiah terbesar yang diterima Cleopatra adalah penobatan dirinya sebagai Ratu Segala Raja dan Caesarion sebagai Raja Di Raja. Bahkan dengan pengaruhnya, Cleopatra berhasil mendesak Antonius menitahkan Caesarion sebagai pewaris tunggal takhta Roma, dalam sebuah upacara kenegaraan meriah di Alexandria. Sesuatu yang melampaui wewenangnya sebagai anggota triumvirat.

Maka pantas bila kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Triumvirat Romawi kembali pecah, karena Octavian (yang kelak menjadi Kaisar Agustus) menuduh Markus Antonius melakukan desersi dan berniat memindahkan ibukota kerajaan ke Alexandria. Menyusul perpecahan itu, tahun 31 SM terjadilah perang besar antara kubu Octavian melawan kubu Antonius. Pertempuran yang memuncak di Actium harus usai dengan kekalahan Cleopatra dan Antonius. Kisah-kasih kedua insan inipun berakhir tragis. Masing-masing bunuh diri dengan caranya sendiri.

Meski demikian kematian Cleopatra sempat menimbulkan kontroversi. Pendapat yang satu mengatakan akibat gigitan ular berbisa. Tapi disanggah yang lain karena luka di lengannya ternyata hanya gigitan serangga. Sementara yang lain mengatakan ia minum racun yang disembunyikan di dalam tangkai sisirnya yang berongga. Lantas siapa yang benar? Tak ada yang bisa menjawab.

 

Wanita tegar serba bisa

Biasanya sejarah menampilkan wajah dalam berbagai sisi. Itu terjadi lantaran ia sering merupakan percampuran antara fakta diri yang diimbuhi gincu dan bumbu untuk kepentingan politis. Salah satu contohnya adalah wajah sejarah Cleopatra.

Terlepas dari sisi kehidupannya yang negatif, sosok Cleo adalah wanita tegar yang amat pintar. Pujangga Romawi Cicero mengakui, Cleopatra adalah wanita terpelajar yang masih langka pada zamannya. Pengamatan Cicero membuktikan, wanita ini tidak pernah mau melakukan sesuatu tanpa mempelajarinya terlebih dahulu. Bahkan Al-Masudi, sejarawan Arab, mengatakan Cleopatra yang punya minat besar pada ilmu filsafat adalah pengarang buku-buku pengetahuan. Ini tidak mustahil, mengingat catatan sejarah di tangan Plutarch menyebutkan wanita ini menguasai tujuh bahasa.

Di mata kaumnya yang hidup berabad-abad kemudian, kecantikan dan kemolekan Cleopatra yang nyaris tak tercela itu telanjur menjadi legenda. Apalagi, menurut Dio Cassius, Dewi Asmara ini tahu cara berdandan. Cleo bahkan menulis sebuah buku perawatan tubuh berisi resep kecantikan dari ramuan-ramuan aneh, yang pasti sangat asing bagi para ahli kecantikan abad ini, semisal tikus bakar.

Sebagai wanita yang memegang tampuk kekuasaan dan ibu tiga orang anak, Cleopatra menjalani hidup dengan penuh ketegaran. Bayangkan, seorang perempuan sendirian memerintah sebuah kawasan besar yang cukup lama menjadi ancaman bagi Roma. Disamping urusan negara, tentu ia tak bisa meninggalkan Caesarion dan sepasang bayi kembar yang selalu meminta perhatian.

Setiap hari ia sibuk bekerja. Mulai dengan “sidang” kabinet terbatas, bertemu para penasihat, memberi persetujuan atas proyek pembangunan saluran air, atau memeriksa pemasukan pajak negara. Belum lagi menemui tamu-tamu dan para duta besar yang datang.

Namun, betapapun data sejarah menyediakan segudang jawaban atas berbagai pertanyaan tentang dirinya yang sejati, akankah khalayak tertarik mengubah citra Cleopatra dari yang sudah dikenal selama ini? (Barbara Holland/Djs)

Filed under: Hegemoni Wanita

Aku, yang mencari kedamaian sejati. Seorang Counselor Sekolah. Seorang Pengabdi sejati. Menebar cinta kasih sayang dan mencari kasih sayang dan cinta yang pernah hilang. Mari berbagi dalam suka dan duka

KALENDER

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

SELAMAT DATANG, ANDA TAMU SAYA YANG KE

  • 87,722 hits

Tulisan Teratas

RSS BERITA

RSS BERITA DUNIA ISLAM

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Blog ku yang Lain

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

ILUSTRASI

More Photos
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.
DSCN1416
PANTAI INDAH

KAWAN

DSC01737
MASJID ISLAM

aku tahu

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

PB205894

PETA PENGUNJUNG

KATEGORI

RSS PERGERAKANKU

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

COUNTRIES SHOW

free counters
DSC01734
DSC01740
DSC01737
DSC01212
DSC01215
DSC01219

SELAMAT PAGI DUNIA

Selamat Pagi Dunia

Mendambamu sepanjang hidupku

Ketika terduduk dalam keterasingan disudut pulau, aku sanggupp membaca guratan merah cakrawala ufuk barat senjahari bahwa akan ada keabadian setelah semua ini sirna. Menjadi abadi yang sempurna, tatkala kematian diselimuti dengan senyuman kepuasan akan kenikmatan tunduk kepada kuasa Tuhan. Menjadi abadi yang sempurna, ketika kita mendamba cinta tak bernoda yang sanggup kita genggam meski ombak badai menerjang terjang. Ketika terduduk dalam keterasingan disudut pulau.... aku begitu mengharu biru menyambut cinta yang hadir kembali menemani asa yang hampir mati Aku, meski tersudut sepi, disebuah pulau tak berperadaban....tetapi selalu kudamba engkau untuk menerangi hidup hingga akhir hayat