NUMBING NEWS. Suatu sore ketika masih dalam ekspedisi pertama di pulau Gin Besar Numbing, aku berjalan-jalan dipinggiran belantara karet pulau ini. Sampai kemudian ketepian pantai pusat “ibukota” Pulau Gin Besar, mata kami tertuju pada satu tulisan tak beraturan di sebuah bangunan berukuran kira-kira 4 x 6 m persegi. Tulisan itu menimbulkan tanda tanya besar padaku pada pak Dwi kawan seperjuanganku, apa maksud dari tulisan itu? Tulisan hitam tak beraturan itu berbunyi TEKEK GENK. Pikiran kami rupanya sama-sama melambung membayangkan sebuah kelompok anak muda urakan, metal, yang membentuk satu genkster dengan nama TEKEK GENK. Tetapi aneh, kenapa mesti Tekek yang jadi nama genkster anak-anak muda pulau ini? Tekek adalah bahasa jawa dari Tokek. Kenapa bahasa jawa ada di pulau ini? Memang sepanjang jalan kami susuri kami selalu di sapa dan menyapa dengan bahasa jawa. Artinya sebagian besar pulau ini adalah orang-orang jawa. Pekerjappekerka perkebunan karet memang kebanyakan adalah orang-orang jawa, meskipun terkadang ada campuran dengan medan (Jawa medan).
Kembali ke masalah Tekek Genk. Keanehan pertama tadi adalah mengapa memakai nama “tekek”, asumsi kami barangkali memang di sini banyak tekek/tokek, karena memang pohon karet terlalu banyak dan tempat yang asyik untuk tokek bertengger. Keheranan kami kedua adalah, apa iya di pulau yang memang terpencil ini ada gengster sekumpulan anak-anak muda nakal yang mengidentitaskan diridengan nama tetek geng? Kami tak segera menemukan jawaban dari keheranan kami tersebut. tetapi setelah langkah kami sampai pada halaman depan dari bangunan itu, kami tertawa hebat ternyata bangunan itu adalah tempat praktek bidan. Ha….ha…ha….ha…Joko sembung naik ojek, nggak nyambung jek.
Salam Tiga Daun
Filed under: celoteh dan tulisan-ku
Engkau yang pertama, maka aku tak sanggup menolak kehadiranmu kembali
Engkau yang mampu menyelaraskan setiap rasa dalam lidahku, sebab tanpamu semua rasa hambar
Engkau yang tak pernah terlepasa dari sudut hati, sebab engkau mampu membahagiakanku meski hanya dengan harapan-harapan
Wahai Cinta, hendak engkau kemanakan pandangan yan gmulai acuh dengan keindahan ini. Hendak kau bawa kemana hati yang tak lagi bisa lagi mencintai selainmu. Hendak kau bawa kemana rasa yang hasrat yang hampir punah, karena hampir jengah menunggu hadirmu
Kini, aku tak sanggup untuk menolak, rasamu, hadirmu, yang memang membuat segalanya bersinar kembali. Hadirmu, meronakan wajah yang telah layu yang merindu bahagai. Hadirmu membuat indah kembali hempasan air di pantai, membuat indah kembali matahari yang membakar, membuat indah kembali bulan yang hampir redup
Jangan lagi punahkan rasa ini wahai cinta. Tak kan sanggup aku hidup jika terluka kembali.Dekaplah aku wahai cinta dengan cinta dan kejujuranmu. Aku mendambamu sejak pertama kali kita bercengkerama di teras masjid hingga kita dewasa rasa itu tak segera menyatu jua…..
Wahai cinta, bawalah aku kepada pelabuhan kasih terakhirmu hingg saat ajal menjemput kita
Aku merinduimu begitu dalam
Filed under: celoteh dan tulisan-ku
Kamis 07/Mei/2009. Aku pulang ke Batam. Tetapi sebelumnya aku mempir ke BKD. Di Numbing beberapa hari sebelumnya, Ibu Dina Kepsek SMP 18 Numbing, menelpon aku memberitahukan untuk bersiap-siap mengikuti LPJ/Diklat Pra Jabatan di Garden Hotel Tanjung Pinang. Alhamdulillah, lagi-lagi Allah menunjukkan kemurahannya padaku. Dari 240-an lebih CPNS aku masuk gelombang pertama. Dari 6 orang yang ditempatkan di Numbing aku termasuk yang dipanggil. disamping Pak Dwi dan Bu Tati. Begitu bahagia kami bertiga.
Secepat itukah LPJ? kenyataannya demikian. Ya Alhamdulillah. Biasanya kan LPJ sebelumnya berselang 6 bahkan sampai satu tahun setelah pengangkatan CPNS. Hari ini aku di Batam menyiapkan segala sesuatu untuk mengikuti diklat tiga hari lagi di Pinang. Nikmati hidup ini Coy, jangan mudah panik apalagi stress, tade gune lah.
Filed under: celoteh dan tulisan-ku
NUMBING NEWS. Kami berenam awalnya adalah satu tim, tetapi barangkali tim yang memang “agak” lemah. Betapa tidak dari enam orang personil baru, jebolan tes cpns formasi 2008 di Pemkab Bintan yang ditugaskan ke Numbing, hanya kami berempat yang telah mecoba mendalami pulau Gin Besar, Numbing dan sekitarnya, bergaul dngan masyarakat, bercengkarama dengan murid-murid, dan mencoba akrab dengan senior-senior. Sedangkan dua orang lain izin karena masih diberi beban di sekolah asal sampai ujian nasional berakhir.
Dari usha-usaha yang telah kami berempat lakukan. Tragis, Teh Intan, begitu aku panggil dia belakangan ini setelah aku tahu ia berasal dari Bandung, tiba-tiba berinisiatif mengundurkan diri. Barangkali hari ini saat tulisan ini aku buat, mungkin ia telah kembali ke Batam. Kami bertiga, aku terutama, telah berusaha meyakinkannya untuk tetap melangkah maksimal sampai setahun lah, untuk tetap menerima tugas ini, amanah yang kita perjuangkan bertahun-tahun, keinginan yang tidak bisa dimiliki oleh beribu-ribu bahkan berjuta orang di luar sana. Namun ia keukeuh dalam pendiriannya untuk tidak lagi menjalani kehidupan sebagai PNS. Apalagi keinginan ia itu didukung oleh suaminya yang sempat aku kenal beberapa saat di Numbing. Alasannya, aku tak tahu pasti. Tetapi yang selalu ia risaukan, ia keluhkan adalah kondisi pulau Numbing serta fasilitas-fasilitas di dalamnya yang menurutnya sama sekali tidak memadai. Yah, tinggal aku ucapkan selamat jalan saja. Semoga sukses selalu.
Menjadi PNS sebenarnya juga bukan pilihan satu satunya. Di era ini banyak bidang yang dapat kita garap, semua tergantung cara pandang, prinsip dan semboyan yang kita pegang dalam mengarungi hidup ini.
Selamat jalan Teh Intan
Filed under: Hegemoni Wanita, Perjalanan, celoteh dan tulisan-ku
komentar anda