CAKRAWALA JIWA (Bagi Engkau yang Dahaga Jiwa)

Mendalami Jiwa layaknya menjelajahi jagad raya begitu sulit, dalam, dan berkelok tetapi diliputi keindahan bagi yang memiliki kesadaran transendental. Mengenal jiwa secara mikrokosmos adalah dasar untuk mengenall jiwa secara makrokosmos, termasuk kekuasaan Tuhan

Cara jitu mengusir umat Islam dari tanahnya

Judul yang aku buat mungkin terlalu provokatif atau apalah namanya. Tetapi dari sedikit penelaahanku, aku menemukan sebuah fakta baru, sebuaah sintesa, betapa sangat gambang mengusir dan memarjinalkan numat islam di Batam dan sekitarnya. Tulisanku ini juga terinspirasi barangkali dengan salah satu artikel Buletin Jumat yang terbit minggu ini, yang membahas tentang maraknya peternakan babi di batam. Loh… apa hubungnnya babi dengan judul yang agak bernuansa “sara” tersebut?

Barangkali memang aku harus jujur, meskipun aku adalah pengajar pelajaran sosiologi sekaligus mata kuliah ISBD. tetapi harus aku akui rasa primordialis alamiahku muncul, karena faktor keyakinan yang melekat kuat dalam jiwaku. Islam, agamaku, terlalu sirik umat lain sehingga benar-benar tidak menginginkan Islam berkembang dan terus berkembang di seantero jagat. Selalu ada saja cara-cara yang naif, tidak bijak, kotor, dan pengecut yang ditujukan untuk membendung menyebarnya Islam. Taruhlah salah satu contoh yang bisa kita angkat adalah isu-isu barat yang terus menggulirkan isu terorisme yang setali tiga uang dengan Islam. Tetapi aku bersyukur justru dengan penggembosan macam itu, Islam malah membuat banyak penasaran orang barat sehingga mereka belajar Islam dan masuk Islam dengan keyakinan yang justru lebih kuat dari pada umat muslim sendiri. Seperti berita akhir-akhir ini, di beberapa negara bagian Amerika dalam satu minggu ada dua orang yang menyatakan masuk Islam. Senjata makan tuan, bukan?

Di Batam, kerisauanku bermula pada adanya acara di Stadion Tumenggung Abdul Jamal umat tertentu menggelar pengobatan massal dan persahabatan, sebuah kedok yang picik dan pengecut untuk memurtadkan umat islam. Sebuah cara yang sama sekali menimpang dari kaidah hak asasi manusia memaksa orang berpindah keyakinan dengan lantaran pengobatan yang juga penuh dengan kebohongan yang di lakukan seorang petinggi agama. Untunglah MUI batam tanggap sehingga menggelar spanduk dengan upaya pelarangan umat Islam untuk tidak menghadiri acara permutadan berkedok pengobatan tersebut. Sehingga fantastis,masyarakat muslim berangsur sadar bahwa acara ini haram diikuti oleh umat Islam karena bakal tergadai Islam kita kalau sekiranya menghadiri acara tersebut. Pihak departemen agama hendaknya juga tanggap akan hal ini, dan bertindak tegas melarang penyebaran agama dengan cara-cara licik dan pengecut seperti itu.

Setelah menjamurnya spanduk pelarangan mengikuti acara tersebut, seolah memiliki unsur kesengajaan sebuah situs batak “lapotuak” menampilkan kepengecutan yang lebih menjijikkan dan terkesan menampilkan kefrustasian. Apa gerangan? Situs tersebut memuat kartun nabi Muhammad dan melecehkannya. Astaghfirullah. Mendidih darahku menyaksikan itu. Keimananku makin mantap, semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin bertiup. Keagungan Islam, akan terus mendapatkan cobaan ini. Dengan ini justru Islam akan menunjukkan sinarnya.

Umat Islam di Batam jelas mendapatkan teror yang semakin tinggi intensitasnya. Hubungannya dengan judul tulisan ini, bahwa maraknya peternakan babi di Batam adalah modus baru untuk memarginalkan Islam atau lebih tepat mengusir umat Islam dari tanah yang sudah ditempatinya berpuluh tahun. Maka dengan terusirnya kaum muslin yang tidak mau dekat dengan binatang haram tersebut, berlanjut dengan pendirian rumah ibadah baru yang sebelumnya tidak ada. Maka umat lain serta merta menampati wilayah yang sudah ditinggalkan umat muslim tersebut. Sebuah modus yang lihai, licin tetapi licik dan pengecut. Maka bisa kita saksikan di batam saat ini muncul peternakan-peternakan babi liar. Bisa cek di seputar bandara dan paling banyak adalah wilayah batu aji.Bagaiman umat Islam bersikap dengan hal ini? To be continued

Filed under: Dakwah Islam, celoteh dan tulisan-ku, pendidikan

Selamat Hari Guru

Hangtuah News, Pagi ini luar biasa beda. Kalau biasanya upacara bendera yang bertugas adalah anak-anak maka kali ini dewan guru harus mampu menunjukkan bahwa mereka benar-benar teladan dalam semua lini. Kami menjadi petugas upacara pagi ini, Selasa 25 November 2008. Aku kebagian menjadi pengibar bendera, alhamdulillah sukses besar bagi tim kami Aku, Bu Reni dan Pak Beni. Nyaris tak ada yang bergeming ketika kami menjalankan tugas, lain halnya dengan kawan-kawan lain yang terkadang anak harus menahan tawa karena lucu, wagu dan entah apalagi yang harus aku katakan untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan kami.

Usai upacara, kami bermusyawarah bahwa hari ini sepakat untuk tidak belajar (walau aku sebenarnya tidak setuju). Hari ini diliputi pertandingan guru melawan tim dari siswa. Voli Ball, bola kaki dan karaoke. Lumayan meriah. Kami menang.

Usai kami bertanding. Aku menuju ke meja kerjaku di kantor. Aku temukan sebuah kado dengan sampul bunga bernuansa biru. Aku lihat dengan seksama, tidak tertera nama, tetapi ada tulisan “SELAMAT HARI GURU, TERUS BERJUANG………..” Aku pikir itu dari rekan guru. Tetapi tidak ada satupun yang mengaku ketika aku tanya. tetapi ada salah satu kawan guru yang bilang kalau tadi ada anak SMA IPS menaruh kado itu dimejaku.teaching

Hampir setiap tahun pada hari yang sama,  disaat kawan guru lain tak ada terima kado selalu aku yang diberi kado oleh anak murid. Sebaris tulisan yang tertera pada kado itu selalu terngiang-ngiang ditelinga sanubariku. Anak muridku sudahlah sanggup berikan motivasi, disaat mereka sendiri kering motivasi. Aku buka kado itu dirumah, dan isinya adalah baju yang sangat indah dan masih ada bandrol harga di atas seratus ribu. Begitu care anak ini padaku. Aku selidiki betul anak-anak yang paling dekat denganku adalajh anak-anak IPS XII, bandel tetapi sebenarnya punay pengharapan kepada kami. Bukan sekedar meluluskan mereka \, lebih dari itubagaimana membantu mereka memformat kehidupannya di masa datang.

Selamat Hari Guru, Terima kasih nak-anakku karena kalian masih percayaiku untuk memberikan perubahan berarti dalam hidup kalian.

Filed under: celoteh dan tulisan-ku, pendidikan

Selamat Menunaikan Ibadah Haji Pak!

Ketika guru besarku berangkat haji, saat itu aku gak sempat bersalaman untuk melepas atau sekedar mengucapkan selamat jalan. Sebab pada hari yang sama, aku mesti berangkat ke Tanjung Pinang untuk mengikuti diklat Guru Geografi dan Sosiologi Se-propinsi kepri selama 12 hari. Maka tak ada nuansa titip doa atau apapun yang layak diucapkan untuk orang yang pergi haji.

Aku hanya teringat ketika beliau ikut hadir rapat hari sabtu dewan majelis guru Hang Tuah, maka beliau menginterupsi rapat untuk mengucapkan selamat tingal dan minta doa restu. Hanya itu kata-kata terakhir sebelum berangkat ke Makkah.

Tetapi memang sesungguhnya ada yang meresahkan hatiku, sebab keberangkatan beliau terjadi pada saat beliau benar-benar marah padaku karena ada friksi kecil yang barangkali memang aku yang salah, dan tidak layak aku tulis disini. Bahkan sampai sekarang, perasaan tak enak itu menggelayut di dadaku. Apalagi tadi pagi, beliau telpon ke salah satu kawan guru, pak Adi yang kemudian bercerita padaku, tanya kabar,ini itu dan sebaginya. Tetapi,  tidak pernah menelpon aku, ,padahal aku pernah akrab bahkan sangat dekat. Yahh.. barangkali memang untuk seterusnya aku harus mulai menghindar, melupakan bahwa aku bisa seperti dia yang sanggup berkata tidak dengan keras dengan dasar hukum yang jelas.

Sangat tidak enak bekerja kepada atasan  yang tidak lagi memandang kita sebagai bagian dari komunitas yang beliau pimpin. Tetapi barangkali ini juga merupakan petunjuk bahwa aku mesti harus terbebas dari bayang-bayang sugesti beliau. Menganal karakter dan warna dunia yang lain yang berwarna-warna.

Selamat menunaikan Ibadah Haji, sang guru. Semoga menjadi Haji yang mabrur. Amin……….

Filed under: celoteh dan tulisan-ku

Maafkan kami wahai Kanjeng Nabi Muhammad yang Agung

Penistaan ini kami meyakini tidak akan menghapus kegunganmu, wahai kekasih. Tetapi kami marah, dan mesti berteriak lantang tatkala keagunganmu ini dikotori dengan kedengkian, keirihatian, kedurjanaan dan lebih tepat adalah ketidak inginan agama wahyu yang engkau bawa ini menjadi besar di bumi ini. Agama islam yang sejuk dan damai ini kami yakini akan sekali lagi dapat mengatur dunia dengan kejayaan dan kedamaian tiada tara.

Wahai rosul, Maafkan jika kami harus marah dan tiada sanggup bersabar sebagaimana engkau bersabar terhadap kaum kafir yang melempari wajahmu yang suci dan agung dengan kotoran onta, bahkan batu hingga berdarah-darah. Kami sakit, kami meradang, ketika wajah sucimu dipersamakan dengan makhluk-makhluk dunia yang nista. Kami sungguh marah, dan tak sanggup menahan amarah untuk membelamu.

Maafkan kami wahai rosul, jika kami harus melakukan tindakan diluar batas itu karena kami teramat mencintaimu. Mendamba perjumpaan dengan wajahmu yang penuh kasih. Sungguh kami rela meninggikanmu meski kaki melepuh berdarah-darah, meski perih menusuk jantung, meski badan pedih tersayat-sayat, meski kepala terpenggal, asal namamu abadi dengan keagungan.

Maafkan kami wahai Muhammad yang agung. Tak sanggup kami menempuh jalan kesabaran untuk membela agama dan keagungan namamu, sebab semakin kami bersabar semakin mereka sewenang-wenang menginjak-injak kami. Tak mengapalah kami yang merintih-rintih terdzalimi mereka, tetapi tidak untuk kerendahan namamu tidak untuk jatuhnya ajaranmu.

Salam untukmu wahai baginda. Mohon izin kami menjadi pembelamu dari keiridengkian akan kesempurnaan ajaranmu. Kepada Allah kami memohon untuk menetapkan iman kami, membela ajaranmu, dan kami selalu senantiasa bersyafaat untukmu.

Wahai Muhammad penyejuk kalbuku, damaikan aku dengan mimpi bersua dengan engkau. Kami ingin tatap dalam-dalam wajah putihmu untuk mencari kedamaian yang sesungguhnya. Aku rindu engkau wahai manusia yang agung……….


Filed under: celoteh dan tulisan-ku

Ramai-Ramai Penjarakan Guru

Beberapa harian di Batam hari ini mengangkat berita yang cukup menghebohkan dunia pendidikan Batam. Setelah beberapa kasus serupa yang mendahului beberapa minggu yang lalu, kali ini kawan-kawan guru di EPATA harus duduk di meja hijau alias di polisikan. Apalagi kalau tidak karena tidak terimanya orangtua siswa atas perlakuan guru tsb terhadap anaknya. Kasus, yang ketika aku belajar di sd, smp dan sma nyaris tidak pernah terjadi. Guru pada waktu itu benar-benar menunjukkan sosoknya yang disegani patut ditauladani dan segala bentuk stigma yang membuat siswa tidak pernah berkutik dihadapan guru. Agaknya memang tidak arif untuk membandingkan kondisi tersebut oleh karena zaman memang sudah berubah, dari berbagai segi maka usaha membandingkan hanyalah usaha mengkambing hitamkan dari persoalan-persoalan baru yang dulu tidak pernah muncul. Sebagaimana orang bijak mengatakan bahwa “Tidak ada yang abadi di dunia ini selain daripada perubahan”. Maka guru yang tida berubah sesuai dengan berubahnya zaman, maka ia akan dimakan oleh zaman itu tanpa sisa, tanpa perlawanan maka jadilah guru yang meratapi nasibnya di balik jeruji besi.

Agak confuse dalam menanggapi masalah ini. Dilema yang berkepanjangan dan tidak pernah mencapai titik penyelesaian yang adil. Begitu sangat mudahnya guru diperkarakan disalahkan padahal apa yang dia lakukan semata-mata untuk mendidik memperbaiki pola sikap perilaku dan pola pikir peserta didik, tidak ada sisi kebaikan yang dikedepankan “sebagian masyarakat” untuk membela tindakan guru atau setidaknya memaafkan guru jika memang agak menyakitkan kita. Meski disatu sisi kita bingung juga begitu mudahnya kawan guru bermain kasar, menampar bahkan sampai menghajar dikarenakan masalah yang tidak terlalu prinsip. Ada apa dengan siswa kita , ada apa pula dengan guru-guru kita?

Baiklah untuk membantu anda mencari jalan penyelesaian kasus ini saya sampaikan sedikit terbuka akan kasus yang menimpa kawan-kawan guru dari EPATA tersebut. silahkan klik Maka muncullah sifat dasar manusia yang pasti bakal marah ketika eksistensinya dilecehkan, martabatnya merasa diinjak-injak. Maka di hajarlah si murid oleh ketiga guru dengan stratifikasu berbeda tersebut. Hal ini berujung pada tidak terimanya orang tua siswa dan melaporkannya ke polisi. Kawan-kawan kita tersebut siap-siap bakal merasakan pengapnya hotel prodeo, tanpa pembelaan, tanpa ada belas kasih dari orang tua siswa tersebut, tanpa apa-apa.

Ironis, disaat profesi guru sedang matian-matian ditingkatkan pamornya. Seiring itu pula penghormatan terhadap guru malah justru menunjukkan grafik yang terjun bebas. Barangkali ke depan perlu dipikirkan dengan serius, adanya lembaga advokasi bagi profesi guru. Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan sebagaimana halnya kasus di atas. Jika persoalan sepele diadukan siswa kepada orang tuanya dengan hiperbola, maka persepsi orang tua juga pasti akan menilai guru salah. Maka diadukanlah ke polisi sebagai sebuah tindak pidana penganiayaan, padahal hukuman fisik yang dilakukan guru adalah proses pendidikan terhadap pola perilaku dan sikap si peserta didik. Kalau setiap proses pendidikan yang dilakukan guru dengan sedikit menggunakan kekerasan fisik masuk kepada delik pidana, maka tidak akan ada orang yang mau menjadi guru. Persoalannya jelas orang tidak mau masuk bui. Saya yakin apabila di usut sebagaimana KPK mengusut kasus pejabat yang korupsi, atas tindakan guru-guru selama ini maka penjara akan penuh dengan manusis-manusia yang berprofesi sebagai guru.

Ada semacam stigma baru yang muncul di benak sebagaian anggota masyarakat, biasanya sebagian anggot masyarakat tersebut dari kalangan atas, tidak menempatkan guru sebagai partner dalam mendidik anak tetapi sebagai pekerja yang tugasnya mengajar mata pelajaran sesuai dengan bidangnya, lain tidak. Padahal orang-orang kaya yang picik semacam ini sesungguhnya tidak pernah punya waktu untuk mengetahui bagaimana perilaku perkembangan mental dan pola sikap anaknya, atau bahasa umunya “mana sempat mereka mengajarkan etika, sopan santun perilaku terpuji bagi anak-anak mereka”. Pada akhirnya mereka sendirilah yang kewalahan meghadapi pola sikap anak yang jauh dari keinginan layaknya orang tua terhadap anaknya, kalau sudah seperti ini maka guru pasti yang disalahkan. Apalagi ketika guru dengan naluri mendidiknya , bukan hanya mengajar, berusaha sekuat tenaga untuk mendidik si anak dengan perilaku yang terpuji meski terkdang harus keras secara mental dan fisik. Tetapi lagi-lagi orang tua tidak terima, malah mereka dengan setumpuk uang kekayaannya, ramai-ramai memperkarakan guru ke meja hijau alias dipolisikan. Puas mereka?

Dari sisi mata uang yang lain, maka kita juga harus arif menyikapi bahwa era sekarang ini sepertinya memang kekerasan fisik memang benar-banar harus dihilangkan dari dunia pendidikan kita. Meskipun sesungguhnya dalam batas-batas wajar hukuman fisik masih sangat diperlukan. Kawan-kawan guru saatnya kini benar-benar kreattif dalam proses pendidikan dan pengajaran terhadap peserta didik. menciptakan inivasi-inovasi yang membangun dan mencerahkan siswa. Menjadi guru bijak saat ini adalah harga mati. Semoga kasus-kasus sepeti ini segera teratasi dengan solusi terbaik. Kalau gurunya saja sudah dipenjarakan oleh muridnya, lantas?

Filed under: berita nasional, celoteh dan tulisan-ku, pendidikan, personality

Fenomena Baru UIN

Sebuah fenomena yang membuat hati terenyuh, kembali saya temukan di UIN Jakarta. Awalnya memang sudah banyak berita-berita miring seputar UIN yang menyoroti masalah berkembangnya SIPILIS (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) disana. Saya sebagai mahasiswa UIN juga memang sering mengalami pengalaman belajar dikelas dengan suasana yang sangat tidak nyaman dan sungguh bertentangan dengan hati dan pikiran saya, dalam artian, si dosen terlalu banyak menyampaikan “ilmu”nya dengan pemikiran yang sangat liberal. Dan sayangnya mahasiswa di kelas itu dan mungkin kebanyakan dikelas lain juga seperti tidak kuasa atau tidak bisa menolak argument dari dosen-dosen tersebut.

Kebanyakan mahasiswa UIN (dalam hal ini yang saya alami di pasca) cenderung diam dan hanya menggut-manggut ketika dosen seperti Kautsar Azhari Noer, Suwito, atau Azyumardi Azra dan cs-nya memberi kuliah. Padahal saya yakin mahasiswa UIN itu tidak bodoh, hanya mungkin kurang memperdalam saja kajian keislaman yang shahih berdasarkan jumhur ulama.

Fenomena yang akan saya sampaikan ini berhubungan dengan masalah penulisan dalam sebuah karya ilmiah. Di pascasarjana UIN Syahid Jakarta akhir-akhir ini, tidak diperkenankan para mahasiswanya untuk menulis kata “Allah” dengan lanjutan  “SWT”, tidak boleh menulis kata “Muhammad” dengan diakhiri “SAW”. Tidak boleh menulis Muhammad dengan sebutan “Nabi”. Karena kan yang menganggap Nabi itu hanya orang Islam saja, bagaimana dengan orang non-muslim yang tidak menganggap Muhammad itu sebagai Nabi? Dan yang mengakui Allah itu Subhanahuwata’ala kan hanya orang Islam…yang bukan Islam apa akan mengakui juga?  Demikian perkataan Prof. Suwito yang sehari-hari mengurus kampus pasca UIN.

Begitu pula tidak boleh ada kalimat-kalimat “Islam sebagai agama yang sempurna”, atau “Islam sebagai agama yang haq” dan kalimat-kalimat sejenisnya yang menunjukkan kemuliaan Islam dan bentuk penghargaan seorang peneliti akan hasil telitiannya terhadap Islam. Jika didapat kalimat seperti itu dalam karta ilmiah seperti makalah, tesis atau disertasi, maka akan langsung dicoret! Saya sangat menyayangkan bahwa dengan aturan demikian, sepertinya Islam itu sendiri menjadi tidak dihargai, sebaliknya, pandangan orang-orang kafir menjadi lebih dimuliakan dan dihargai.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa sebuah universitas Islam yang terkenal menjadi anti-pati terhadap penulisa-penulisan seperti itu? seolah penulisan seperti itu adalah hal yang memalukan dan aib dihadapan warga dunia. sejak kapan pelarangan tersebut menjadi peraturan? Apakah ada aturan resminya? Atau ada SK rektor atau dari Depag ada instruksi demikian? UIN memang memiliki cita-cita besar untuk menjadi universitas internasional, dan saya acungi jempol akan mimpi tersebut. UIN memang ingin karya-karyanya diterima oleh masyarakat dunia, saya tidak menolak harapan tersebut. Tapi kita tidak bisa meninggalkan identitas sebagai Universitas Islam.

Saya pikir sangat wajar kalau sebuah Universitas Islam itu memakai identitas Islamnya..bukan malah mencopot identitas islam dengan kekhawatiran bahwa karya tersebut tidak akan dibaca oleh orang-orang Barat, atau ketakutan bahwa tulian “SWT” dan “SAW” akan membuat orang non-Muslim menjadi ill feel membacanya. Sekali lagi, sangat wajar jika sebuah Universitas Islam memakai identitas Islamnya. Dan orang-orang non-muslim yang membaca karya mahasiswa sebuah universitas Islam juga harusnya bisa menerima semua itu. Tidak perlu berlebihan dalam mengkahwatirkan hal-hal yang tidak perlu dikhawatirkan. Toh para ilmuan Barat juga mengkaji karya-karya Ibn Taimiyah, Ibn Qayyim al-Jauziyah, Imam Ghazali dan lain-lain yang dalam karya-karya mereka semua justru sangat menjunjung dan sangat menunjukkan kemuliaan Islam. Tapi tidak henti-hentinya mereka tertarik tuk mengkaji karya para Ilmuan besar Islam tersebut. (MA)

Allahu ta’ala A’lam.

Sumber : Millist Anggota ICMI

Filed under: Berita Dunia Islam, Dakwah Islam

Aku, yang mencari kedamaian sejati. Seorang Counselor Sekolah. Seorang Pengabdi sejati. Menebar cinta kasih sayang dan mencari kasih sayang dan cinta yang pernah hilang. Mari berbagi dalam suka dan duka

KALENDER

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

SELAMAT DATANG, ANDA TAMU SAYA YANG KE

  • 92,801 hits

Tulisan Teratas

RSS BERITA

ARSIP TULISAN

RSS BERITA DUNIA ISLAM

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Blog ku yang Lain

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

ILUSTRASI

More Photos
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.
DSCN1416
PANTAI INDAH

KAWAN

DSC01737
MASJID ISLAM

aku tahu

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

PB205894

PETA PENGUNJUNG

KATEGORI

RSS PERGERAKANKU

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

COUNTRIES SHOW

free counters
DSC01734
DSC01740
DSC01737
DSC01212
DSC01215
DSC01219

SELAMAT PAGI DUNIA

Selamat Pagi Dunia

Mendambamu sepanjang hidupku

Ketika terduduk dalam keterasingan disudut pulau, aku sanggupp membaca guratan merah cakrawala ufuk barat senjahari bahwa akan ada keabadian setelah semua ini sirna. Menjadi abadi yang sempurna, tatkala kematian diselimuti dengan senyuman kepuasan akan kenikmatan tunduk kepada kuasa Tuhan. Menjadi abadi yang sempurna, ketika kita mendamba cinta tak bernoda yang sanggup kita genggam meski ombak badai menerjang terjang. Ketika terduduk dalam keterasingan disudut pulau.... aku begitu mengharu biru menyambut cinta yang hadir kembali menemani asa yang hampir mati Aku, meski tersudut sepi, disebuah pulau tak berperadaban....tetapi selalu kudamba engkau untuk menerangi hidup hingga akhir hayat